Tukul 'Reynaldi' Arwana | Quick Thinking & Response
Sponsored by Kerajinan Kapal

Villa di Bali



Hosting Murah

Hosting Indonesia

World Silent Day

Blog Hosting Indonesia, Domain Name, dan Bali Web Design

 


Web Statistic
eXTReMe Tracker
Hosting Indonesia

4 February, 2007 |

Wawancara: Mereka Senang Jika Saya Tampil Bodoh

KENDATI menjadi pelawak terkenal, penampilan Tukul Arwana tak pernah berubah. Lelaki kelahiran Perbalan, Semarang, ini masih saja tampil bersahaja. Kemana pun pergi, ia masih lebih suka mengendarai sepeda motor ketimbang mobil. Ia juga menyikapi ketenaran saat ini secara biasa-biasa saja. Ditemui menjelang syuting ‘’Empat Mata'’ di sebuah studio di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, bapak satu anak ini berbincang akrab penuh canda tawa. Berikut petikannya.

Bagaimana awal keterlibatan Anda di acara Empat Mata?

Waktu itu saya sedang syuting “Warung Podjok”. Terus ada Mr Apolo, manajer produksi acara itu, nglihatin saya terus. Tiba-tiba dia nawarin saya menjadi pembawa acara di talk show-nya. Saya bilang, “Saya itu kan nggak paham begituan. Saya pelawak. Wawasan dan intelektual saya nggak bisa digunakan dalam talk show. Saya ini cethek banget.”

Dia bilang, “Nggak apa-apa. Kalau saya cari yang sudah pengalaman, itu biasa. Kalau nawarin kamu, kan jadi beda.”

Saya bilang, “Tapi tolong aku dibantu oleh tim kreatif. Kalau nggak dibantu oleh tim kreatif mungkin lama-lama buntu juga.”

“Oh ya ya, caranya gimana?” kata dia.

“Ya ditransfer melalui laptop. Gitu.”

Lalu Mr Apolo memang membantu.

Aku juga bilang, “Jangan lupa kerja sama dengan penonton juga. Mereka harus bisa merespons jokes saya, supaya adrenalin saya bisa terpacu terus.” Akhirnya oke. Tapi nggak tahunya bagian programming-nya kurang percaya, kurang yakin.

Akhirnya mereka minta contohnya dulu. Ya sudah kami bikin contoh dua episode. Ternyata begitu melihat contoh, merela langsung minta 13 episode. Karena bagus, minta 26, 39, sampai akhirnya 260 episode.

Setelah “Empat Mata” sukses, Anda memiliki beban untuk menghasilkan tontonan yang lebih bagus?

Saya sih biasa-biasa saja. Wong tadinya kami nyari penonton, eh sekarang penonton yang nyari kami. Penonton di studio sampai mau menunggu. Waiting list sampai Maret sudah penuh.

Soal usulan penggunaan laptop dari Anda ya?

Ya.

Mengapa kok pilihannya laptop?

Lha kan bisa kelihatan lebih modern. Saya jelas tidak modern. Jadi mesti ditutupi dengan laptop itu.

Ungkapan “Kembali ke laptop” itu dari mana?

Dari saya. Biasanya ngelawak itu kalau sudah nglantur harus kembali ke benang merah. Nah ini kalau sudah nglantur, waktunya sudah kelamaan, ya saya harus kembali ke laptop. Gitu. Jadi bisa dipakai untuk ngontrol waktu juga.

Ide itu muncul begitu saja?

Saya untung-untungan saja waktu ngomong “Kembali ke laptop” itu. Ternyata untung beneran ya. Ha ha ha. Kayak “silent please” itu kan sebenarnya mengambil dari kebiasaan kalau mulai syuting. Sutradaranya biasanya bilang, “Oke ya silent ya?” Terus semuanya diam. Jadi itu saya ambil saja untuk meredam suasana biar tak gemuruh melihat ketampanan saya. Akhirnya muncullah silent please. Coolling down, kalau gak malah rolling door.

Dari cooling down terus bisa jadi rolling door itu kayaknya Anda itu mbodhoni. Apa memang itu cara Anda supaya mereka mau membuka semua rahasia?

Ya mungkin karena mungkin memang mereka senang kalau saya tampil bodoh. Ya memang benar. Orang kan senang kalau disanjung-sanjung. Kalau saya sih lebih senang njelek-njelekin diri sendiri. Soalnya dari situ saya dapat duit. Kalau nggak dapat duit ya percuma.

Pernah kehilangan akal?

Pernah yakni saat ketemu dengan bintang tamu yang jaim, yang kayaknya dia merasa pintar dan cuma diwawancarai oleh seorang kutu kupret. Kalau sudah begitu, ya saya harus bikin manuver ke penonton, pemain band, bar girl, atau diri sendiri.

Spontanitas sangat penting di acara seperti ini ya?

Oh ya. Saya ngobrol dengan pemain band dan penonton itu spontanitas, improvisasi. Kalau memang nggak benar-benar lulusan Hollywood memang susah. Makanya quick response dan quick thinking yang cerdas bukan lagi milik pentium 4 atau centrino. Saya harus sudah core duo. Jadi crek crek udah langsung ngeprint.

Anda sebenarnya kan nggak sebodoh penampilan di televisi to? Banyak buku yang dibaca, tetapi kenapa lebih memilih tampil dengan kesan ndesani, mbodoni? Apakah konsep ini akan terus dipakai dalam “Empat Mata”?

Ya itu ngalir aja, begitu mengalami stagnasi saya akan bikin manuver. Harus dikasih apa nih Empat Mata supaya penonton tetap senang. Tim kreatif, properti ditambahkah? Bbintang tamu jangan monotonkah? Saya kepingin bintang tamunya nggak harus artis. Sekali-sekali olahragawan, atau tokoh berpengaruh…

Anda juga tampil di “Catatatan Si Tukul”. Bagaimana mengatur waktu?

Sebelum menerima pekerjaan ini saya sudah memberitahu kondisi saya. Mereka mau, ya saya jalani. Risiko-risikonya juga saya gambarkan, jadi saya sudah nggak kebebanan. Sekarang? Eh, mereka pada berebut memberi tawaran.

Bagaimana menghadapi kompetisi di dunia lawak?

Saya yakin pada diri saya sendiri, pada gaya saya sendiri. Orang lain belum tentu bisa menyamai gaya saya. Saya punya trik cara menjual lawakan. Saya orangnya nggak pernah mengeluh. Ketika para pengguna jasa lawakan saya bilang, “Mas Tukul pesawatnya ini, makanannya ini, dan hotelnya ini,” saya bilang, “Ya, ya boleh, tidak pa-pa.”

Soal honor?

Ya lihat-lihat yang nawar. Kalau yang nawar bermuka pucat, ya sudah. Ada lho stasiun televisi nawar honor sampai muka artisnya jadi pucat. Tergantunglah siapa yang manggil. Anda pada saat sunatan manggil saya saja. Kalau memang ada waktu saya pasti datang. Saya tidak milih-milih kerjaan.

Honor naik dong setelah makin terkenal?

Ya memang ada kenaikan. Tapi saya tidak terus umpak-umpakan. Naik seenak sendiri? Saya tida gitu. Saya selalu fleksibel, selalu ingat sejarah. Tanpa Trans7 atau “Empat Mata” mungkin tidak bisa seperti ini. Jadi harus saling memiliki, saling mengingat.

Awal 2007 ini jadi milik Anda ya?

Sebenarnya sudah terlambat. Di luar negeri saya sudah terkenal dua tahun yang lalu. Ha ha ha

Kabarnya honornya sampai Rp 30 juta?

Ah nggak. Jangan dibesar-besarin, malah nanti NPWP saya tambah besar lagi. Kadang-kadang orang pajak ngejar sembarangan. Padahal kan sudah bayar pajak lewat pemilik acara.

Kepada pengejar pajak saya bilang, “Kalau saya terlalu sibuk menerima telepon dari kamu, nanti telepon dari duta besar nggak bisa masuk. Juga dari presiden planet pluto nggak bisa saya terima.” Honor saya kan langsung dipotong pajak.

Kabarnya Anda beli motor Harley Davidson dari “Empat Mata”?

Nggak. Ya setengah dari “Empat Mata”, setengah dari saya sendirilah.

Tapi saya tidak banyak berubah kok, saya tetap naik sepeda motor bebek biasa. Saya nggak umpak-umpakan, shoping, dugem, nongkrong di kafe. Ah nggak begitu saya. Mendingan uang saya ditabung digunakan untuk keperluan keluarga saya daripada beli-beli barang yang nggak keruan.

Benar-benar jangan sampai mubazir. Saya tidak selalu memenuhi keinginan.

Kebutuhanlah yang saya utamakan. Keinginan saya redam. Jadi mending ditabung, disimpan untuk masa tua. Sekarang kamu ngejar-ngejar saya, tapi kan nggak tahu sepuluh tahun lagi belum tentu seperti ini.

Yang pasti style saya, sama sekali tidak berubah. Saya tetap konsisten dengan gaya saya. Saya nggak bisa dipengaruhi oleh hal-hal seperti itu. Jadi saya memang selalu berhati-hati.

Jadi seperti apa sih cara Anda selama ini menikmati hidup?

Lho aku nunggu Anda itu sudah sebuah kenikmatan. Jadi mulai jam empat aku nunggu itu sudah nikmat banget. Sampai-sampai tadi aku mau tiduran.

Kenikmatan itu tidak selalu berarti harus makan enak. Kadang saya menikmati hidup itu ya justru kalau sedang sendirian. Begitu kedatangan teman, malah kadang kenikmatan terganggu.

Ada nggak sih yang pernah tersinggung pada lawakan Anda?

Kayaknya mereka malah suka ya saya gituin.

Seperti apa sih Anda menggambarkan tampang sendiri?

Saya nggak pernah jelek-jelekin tampang sendiri. Saya kan selalu bilang, saya ini Ari Wibowo, Reynaldi, lulusan Oxford, Boston, dan Hollywood.

Kembali ke “Empat Mata”, ada hal-hal dari tim kreatif yang perlu ditambah?

Saya kepingin artis atau bintang tamu ganti-ganti. Kalau ganti bintang tamu berarti materi harus ganti. Tapi kalau bintang tamunya dia lagi, pasti jadi basi, balik lagi. Ada kejadian bintang tamu bagus, lalu dipanggil lagi dianggap bakal bagus, ternyata basi, saya jadi harus bikin manuver lain.

Soal ide dan bintang tamu ada masukan dari Anda?

Ada juga satu dua. Saya panggil bekas majikan saya dan Toni, teman yang ngasih saya nama Arwana. Itu ratingnya bagus, kerena penonton trenyuh, iba melihat perjuangan saya selama 21 tahun hingga menjadi seperti sekarang ini. Mereka bilang, “Oh ternyata Tukul itu dulunya sopir. O tidak segampang itu ya kalau mau ngetop.”

Soal jargon kembali ke laptop tadi tidak ingin dipatenkan?

Biarin aja. Sekarang saja sudah ada suara handphone “Kembali ke laptop” dan “silent please“. Saya juga nggak ingin mematenkan.

(Tresnawati/35)

Sumber : http://layar.suaramerdeka.com/index.php?id=94

5 comments to “Wawancara: Mereka Senang Jika Saya Tampil Bodoh”

henz, February 4th, 2007 at 12:26 pm:

  • Bodoh, katro, ndeso adalah nilai jualmu. Its normal utk manusia yg ingin tetap survive, selalu menciptakan identitas diri. Keep ndeso.

ikapmajaya, February 11th, 2007 at 9:27 pm:

  • ayo mas Tukul ngeblog la.biar diliat tulisan”nya.gpp agak ndeso yang penting ada :)

    salam dari yogya

hasan, February 26th, 2007 at 2:53 pm:

  • Mungkin mas Tukul nggak ngerti ngeblog, sorry, ngeblog itu dalam bahasa jawa berarti memukul dari belakang.

    Mas Tukul…ngeblog itu maksudnya mbalesin komentar kita2 disini gitu lho…sorry nggurui.

    Ngelawak Terus mas…sudah capek penonton lihat berita sedih2.

@velina, April 20th, 2007 at 3:08 pm:

  • wah mas tukul pasti sdh lupa sama saya saya dulu pernah foto dan salaman sama mas tukul waktu di Taman Mini Gedung Pencak silat tahun 2000 acara temu keluarga Pacitan yang dulu dihadiri pak SBY sebelum jadi presiden, wah aku senang banget liat guyonan plus lagu yang hanya satu bait itu dan saya mau deh liat mas tukul main gitar lagi. So Keep your face like that (so cool and NDESO)

@velina, April 20th, 2007 at 3:12 pm:

  • oya, boleh ga saya minta no HP mas tukul buat saya undang ke acara khitanan anak saya nanti

    karena di tempat saya banyak lho yang suka sama mas boleh ya

Your comment:

You must be logged in to post a comment.

Proudly dedicated for Tukul Arwana from Hosting Indonesia hosted by Hosting Indonesia
Ngerti po ora boso kuwi mas? Bali wae ning ndeso yen ra mudeng ... hehehe
Hak cipta ditanggung sendiri oleh pembaca - Isi dari website bukanlah pernyataan resmi atau mendeskreditkan Tukul Arwana.
Isi adalah semangat kebersamaan para pecinta Tukul Arwana. Website ini berstatus BO (Bimbingan Orangtua)
Semua isi bertujuan untuk kocok-kocok perut Anda, tanyalah kepada Orang Tua bila tidak ngerti maksud bahasa diatas
Generasi muda sekarang lebih suka bahasa kota drpd bahasa NDESO. Bahasa NDESO lebih dimengerti oleh orang tua Anda.
Ajarkanlah Anak Anda Bahasa Ndeso, baru Bahasa Kota, trus Bahasa lain (Inggris, Belanda, Bali, Sumba, Papua, dll).
Ojo lali kowe Le, asalmu ki teko ndeso, pelosok, hutan sana lo, melu boso ndeso artine melestarikan budayamu dewe,
ben ra punah. Conto'nen masmu Tukul Arwana kuwi.

free download mp3 indonesia - www.warungmp3.com