Pages
-
Archives
-
Categories
-
Link List
-
Bale Bengong
Bali Blogger Community
Bali Photo Journalism
Bali Villas
Bali Web Design
Bisnis Tokek
Blog Hosting & Design
Busby SEO Test
Hendra
Hosting Indonesia
Hosting Murah
Info HandphoneTerbaru
Jalan-Jalan di Bali
Lombok Hosting
Miniatur Kapal
Mojokerto
Paket Wisata Bali
Pose Ekstrim !
Trans|7
Travel di Surabaya
Versi Ndeso
Villa di Bali
Wisata Bali
Wisata Bawah Laut
19 April, 2008 |
Tukul Mengelola Penghasilannya
Sukses di Rumah Kontrakan, Cicipi Bisnis Kuliner
Kasus Gogon yang divonis empat tahun penjara dan hidupnya morat-marit akibat tak bisa mengelola diri menjadi cermin bahwa pelawak yang sukses tak hanya membuat orang lain tertawa. Komedian hebat adalah yang bisa mengelola hidup, termasuk penghasilan, sehingga bisa tertawa hingga masa tua.
Beberapa pekerja tampak sibuk mengecat bangunan di kompleks rumah kontrakan di Jalan Sawo Ujung, Cipete, Jakarta Selatan, kemarin (18/4). Bangunan satu lantai yang sebelumnya terdiri atas tiga pintu itu dibuat dua lantai lagi di atasnya. Cat oranye tampak sudah melapisi sebagian sisi tembok bangunan seluas 150 meter persegi tersebut.
Rumah kontrakan yang sedang direnovasi itu hanya contoh kecil dari bisnis yang dijalani pelawak Tukul Arwana. Merintis usaha kontrakan tentu bukan lantaran dia butuh tambahan uang. Soal materi, pelawak yang namanya meroket lewat acara talk show Empat Mata tersebut bisa bermewah-mewah. Honor puluhan juta bisa dia dapatkan dari bekerja satu atau dua jam saja.
Order terus mengalir bak jamur di musim penghujan. Mulai melawak, menjadi pembawa acara, membintangi iklan, hingga berakting di layar lebar. Semua itu dijalani Tukul dengan bayaran yang tidak murah. Media massa pun berebut mengulas profil atau perjalanan hidup pria kelahiran Perbalan, Semarang, 16 Oktober 1963, itu.
Jika diibaratkan perputaran roda, kehidupan atau karir Tukul saat ini sedang berada di atas. Tapi, cepat atau lambat, roda tersebut akan berputar ke bawah. Hal itulah yang disadari betul oleh Tukul. Tidak terbuai oleh karirnya yang mengilap, pria yang pernah berkerja sebagai tukang gali sumur dan sopir pribadi itu selalu bertanya dalam hati: “Jika roda kehidupan saya sudah sampai di bawah, bagaimana?”
Secara alamiah, kata Tukul, entah karena sudah tua atau sudah tak kreatif lagi, kehidupan ekonominya akan menuju ke arah sana (penurunan). “Tapi, bagaimana caranya supaya prediksi semacam itu bisa meleset atau tidak terjadi terlalu cepat,” ujarnya.
Menurut Tukul, salah satu kunci sukses pada masa tua adalah investasi. Selain menyimpan di bank, dia cukup lihai memanfaatkan uang yang dimiliki. Mengembangkan bisnis kontrakan rumah adalah salah satu bidang yang paling dia senangi. Untuk kontrakan di Sawo Ujung, Cipete, Jakarta Selatan, yang dikunjungi Jawa Pos, misalnya, rencananya disewakan Tukul seharga Rp 1,5 juta per bulan untuk satu pintu.
Masih di sekitar tempat tinggalnya, Tukul juga sudah membeli beberapa bangunan rumah yang lain. Satu rumah seluas 200 meter persegi berada di depan rumahnya. Yang satu lagi berukuran sedikit lebih kecil, tak jauh dari situ. Rencananya, rumah-rumah itu juga direnovasi dan dikontrakkan.
Bangunan-bangunan itu baru yang berada di sekitar Cipete. Di Bekasi, Jawa Barat, Tukul juga memiliki satu unit rumah yang juga dikontrakkan. Sayang, dia tidak mau membeberkan secara detail saat ditanya tentang berapa banyak dan di daerah mana saja rumah kontrakan yang dia miliki. “Ya, pokoknya ada. Kalau saya sebut semua, nanti orang kaget,” jawab Tukul, lantas tersenyum.
Mengapa Tukul begitu tertarik investasi jenis itu? “Makin tahun, harga tanah makin mahal. Yang tadinya sepi, begitu ramai harga juga ikut tinggi. Dulu di sini per meter Rp 1 juta (rupiah). Sekarang sudah hampir Rp 5 juta,” katanya.
Tak semua investasi itu berhasil. Tukul pernah mencoba peruntungan di bisnis kuliner dengan membuka restoran Ikan Bakar Tukul Arwana di Bumi Serpong Damai, Tangerang. Dia bekerja sama dengan mantan bos ketika menjadi sopir, Alex. Namun, hanya dalam hitungan bulan usaha itu tutup.
“Sebetulnya sea food cukup menjanjikan di daerah itu. Tapi, yang saya lihat, masalahnya ada di tempat parkir yang kurang memadai,” jelas Tukul, yang beberapa waktu lalu mendirikan Ojo Lali Entertainment sebagai wadah teman-temannya sesama pelawak untuk berkarya.
Di Jakarta, hingga daerah lainnya, nama Tukul sering digunakan untuk nama restoran hingga warung nasi kelas kaki lima. Namun, menurut Tukul, tidak ada satu pun yang benar-benar miliknya. Soal namanya yang diadopsi untuk kepentingan komersial, Tukul mengaku ikhlas.
“Biarin saja. Bagi-bagi rezeki. Menyenangkan orang itu kan pahala. Kalau kamu mau pakai nama saya, juga boleh. Misalnya, bikin warung gado-gado Tukul Arwana, atau wong ndeso. Silakan saja,” kata Tukul kepada Jawa Pos.
Meski melabelkan dirinya sebagai wong ndeso (orang desa), Tukul tidak mau disebut berpikiran kuno. Di samping asuransi jiwa, Tukul mengikuti asuransi pendidikan untuk putri semata wayangnya, Novita Eka Afriana, 8, sehingga menjamin bisa sekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi. “Orang dulu bilang asuransi itu nggak perlu. Buat saya, itu penting. Jangan kuno,” ungkapnya santai.
Di luar harta miliaran rupiah dan investasi yang melimpah, Tukul tetap bertahan sebagai sosok sederhana. Tidak terlalu konsumtif. Mobil Mitsubishi Galant keluaran 1982 tetap dia pertahankan. Mobil itu lebih sering dia pakai ketimbang Toyota Innova yang terparkir di garasi rumahnya.
Untuk menuju studio Trans 7 yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumahnya, Tukul juga lebih suka mengendarai Honda Astrea Prima ketimbang Harley-Davidson miliknya. “Soal makanan, saya tetap suka oseng kangkung. Pakaian juga nggak ada yang bermerek,” katanya.
Sumber : ARI K.-SUGENG S., Jakarta (Jawa Pos)
2 comments to “Tukul Mengelola Penghasilannya”
sigietz, August 25th, 2008 at 3:18 pm:
salem, April 7th, 2009 at 6:31 pm:
-
Kali pertama melihat di youtube, saya ambil endah tak endah (tak memperdulikan)..Tapi bila saya sering melihat.. eh eh !!rancangan ini lain dari yang lain. Maka saya ikuti siri2 empat mata yg diupload ke youtube . Wow seronok dan kelakar sekali host nya. Membuat saya tak kering gusi ketawa sendirian didepan komputer ku.
Terus terang lah saya katakan rancangan ini sangat menghiburkan hati. Saya pun tak pernah kenal secara dekat Encik Tukul ini, apalagi menonton secara live, kerana saya tinggal di Kuala Lumpur, dan bukan orang Indonesia.
Tahniah atas kejayaan En. Tukul . Kata orang..tak kenal maka tak cinta.
Your comment:
You must be logged in to post a comment.
Ngerti po ora boso kuwi mas? Bali wae ning ndeso yen ra mudeng ... hehehe
Hak cipta ditanggung sendiri oleh pembaca - Isi dari website bukanlah pernyataan resmi atau mendeskreditkan Tukul Arwana.
Isi adalah semangat kebersamaan para pecinta Tukul Arwana. Website ini berstatus BO (Bimbingan Orangtua)
Semua isi bertujuan untuk kocok-kocok perut Anda, tanyalah kepada Orang Tua bila tidak ngerti maksud bahasa diatas
Generasi muda sekarang lebih suka bahasa kota drpd bahasa NDESO. Bahasa NDESO lebih dimengerti oleh orang tua Anda.
Ajarkanlah Anak Anda Bahasa Ndeso, baru Bahasa Kota, trus Bahasa lain (Inggris, Belanda, Bali, Sumba, Papua, dll).
Ojo lali kowe Le, asalmu ki teko ndeso, pelosok, hutan sana lo, melu boso ndeso artine melestarikan budayamu dewe,
ben ra punah. Conto'nen masmu Tukul Arwana kuwi.














