Pages
-
Archives
-
Categories
-
Link List
Archive for February, 2007
28 February, 2007 | 1 comment
Tukul Arwana di Mata Keluarga dan Orang Terdekat (2-Habis)
Hobi Cium Bintang Tamu Diprotes Anak
HIDUP itu mengalir. Itulah yang diyakini Tukul Arwana. Saat pertama menginjakkan kaki di ibu kota pada 1989, Tukul tak punya bayangan mau bekerja apa. Karena itu, dia ikhlas menjalani pekerjaan apa saja di Jakarta. Dari tukang gali sumur pompa, MC acara di kampung, sampai sopir pribadi. More
14 February, 2007 | 5 comments
Tukul Arwana di Mata Keluarga dan Orang Terdekat (1)
Hadiahi Orang Tua Rumah Dua Lantai
Tukul Arwana memang fenomenal. Berkat aksinya di talk show “Empat Mata”, nama pelawak asal Semarang itu melambung. Meski demikian, pria berambut cepak itu tetap bersikap rendah hati. More
4 February, 2007 | 1 comment
Wawancara: Mas Tukul Wong Ndeso
Orang mengenal Tukul Arwana dengan gaya dan ucapannya yang khas. ‘’Re..Re..Renaldy,'’ ucapnya sambil menggerak-gerakkan tangannya seperti sedang menjumput di depan mulutnya. Selain itu, ia juga sering menggerakkan tangannya seperti menyisir rambut di dua sisi kepalanya, ketika memperkenalkan dirinya sebagai cover boy. Atau itu, itu, tepuk tangan ala tepuk tangan monyet.
4 February, 2007 | 5 comments
Wawancara: Mereka Senang Jika Saya Tampil Bodoh
KENDATI menjadi pelawak terkenal, penampilan Tukul Arwana tak pernah berubah. Lelaki kelahiran Perbalan, Semarang, ini masih saja tampil bersahaja. Kemana pun pergi, ia masih lebih suka mengendarai sepeda motor ketimbang mobil. Ia juga menyikapi ketenaran saat ini secara biasa-biasa saja. Ditemui menjelang syuting ‘’Empat Mata'’ di sebuah studio di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, bapak satu anak ini berbincang akrab penuh canda tawa. Berikut petikannya.
4 February, 2007 | 16 comments
Esai Aulia A Muhammad: Sebelah Mata untuk “Empat Mata”
Kelemahan utama acara “Empat Mata” justru terletak pada hasrat Tukul yang ingin selalu jadi pemain utama. Januari ini barangkali dapat dijadikan sebagai bulan Tukul Arwana. Nyaris semua tabloid memasang foto dan mengulas dirinya. Biogafi pendeknya tercetak di mana-mana, wajah cengengesannya tayang di berbagai infotainmen. Sebabnya satu, keberhasilannya mengampu talk show “Empat Mata”. Keberhasilan yang dinilai fenomenal karena semula kehadirannya justru dipandang sebelah mata. Dan ketika rating “Empat Mata” melejit, iklan antre, “pesona” Thukul pun menjadi topik hangat. Pujian bertaburan. Kesederhanaan dan keluguannya selalu menjadi anggukan.
4 February, 2007 | 2 comments
Farhan: Tukul Arwana Memang Hebat
Presenter kondang Farhan tidak berkecil hati jika “Om Farhan”, talkshow yang dibawakannya, kini kalah tenar dengan “Empat Mata” yang dipandu Tukul Arwana.
4 February, 2007 | No comments
Tukul Arwana, Jadi Wasit Orang Ngobrol
Jakarta, Warkot
PELAWAK Tukul Arwana (43) punya pekerjaan baru: menjadi “wasit” untuk menengahi orang yang sedang berbincang-bincang. Ya, kalau-kalau perbincangan mereka mengarah ke perdebatan, Tukul harus “meredakan” suasana.
4 February, 2007 | 4 comments
Amplop Poundsterling Tukul Arwana
Tukul Arwana (GATRA/Edward Luhukay)BERPROFESI sebagai pelawak, Tukul Arwana, 43 tahun, kerap bertemu hal-hal menggelikan. Paling tidak setahun sekali ia merasa mendapat pengalaman lucu. Tahun lalu, misalnya, pria bernama asli Riyanto –juga bisa dipanggil Ryan– ini sempat keki ketika menghadiri resepsi pernikahan temannya.
Ngerti po ora boso kuwi mas? Bali wae ning ndeso yen ra mudeng ... hehehe
Hak cipta ditanggung sendiri oleh pembaca - Isi dari website bukanlah pernyataan resmi atau mendeskreditkan Tukul Arwana.
Isi adalah semangat kebersamaan para pecinta Tukul Arwana. Website ini berstatus BO (Bimbingan Orangtua)
Semua isi bertujuan untuk kocok-kocok perut Anda, tanyalah kepada Orang Tua bila tidak ngerti maksud bahasa diatas
Generasi muda sekarang lebih suka bahasa kota drpd bahasa NDESO. Bahasa NDESO lebih dimengerti oleh orang tua Anda.
Ajarkanlah Anak Anda Bahasa Ndeso, baru Bahasa Kota, trus Bahasa lain (Inggris, Belanda, Bali, Sumba, Papua, dll).
Ojo lali kowe Le, asalmu ki teko ndeso, pelosok, hutan sana lo, melu boso ndeso artine melestarikan budayamu dewe,
ben ra punah. Conto'nen masmu Tukul Arwana kuwi.






