Pages
-
Archives
-
Categories
-
Link List
Archive for Opini
8 October, 2007 | 4 comments
Tukul Sang Humortivator
Sampai sekarang ini Nama Tukul Arwana, masih menggelora. Candanya masih
membuat “Indonesia Tertawa” Kalau Anda tidak percaya silahkan keliling
komplek dan gang gang ketika siaran 4 Mata atau pun Statsiun Ramadhan di
Malam hari saat saur. Perilakunya yang “katro” membuat orang terpingkal
pingkal. More
28 March, 2007 | 5 comments
Tukul, Pinjal dan Kotak Korek Api
Berbahagialah Tukul Arwana. Pelawak yang dulunya pernah berprofesi sebagai
sopir pribadi itu kini sudah menjadi milyuner. Hebatnya lagi, sudah tajir
tenar pula. Itu semua bisa terjadi karena Tukul bukan pinjal. Lho, apa
hubungannya? More
21 March, 2007 | 10 comments
Jargon Tukul Arwana - “Tukulisme”
Berikut ini, Top 10 jargon (menurut saya) yang sering diucapkan oleh mas Tuyul Tukul di acara Empat Mata-nya. More
14 March, 2007 | 32 comments
Tukulisme dan Pendangkalan Ruang Publik
Dalam tulisannya, Pendidikan Anti-Tukulisme (Media Indonesia, 1 Februari 2007), Paulus Mujiran mengajak kita merefleksikan satu jenis talkshow yang hari-hari ini menyedot perhatian khalayak: Empat Mata. Melalui kacamata pendidikan, tulisan Mujiran berhenti pada kesimpulan bahwa ada kekeliruan dalam pendidikan di negeri ini sehingga masyarakat begitu menggemari acara “olok-olokan”, lontaran penuh seronok, dan tertawaan yang mengeksploitasi fisik a la Tukul Arwana.
14 March, 2007 | 11 comments
Gaji Tukul Arwana 1/2 juta per-menit Setengah dari David Beckham!
Dunia terperangah ketika Beckham dihadiahi kontrak senilai US$ 250 million untuk berlaga 5 tahun di Los Angeles Galaxy. Dengan asumsi bahwa Beckham terus berlaga nantinya, diperkirakan Beckham meraih 1 juta rupiah per menit untuk penampilannya di lapangan hijau. Walau sebenarnya revenue yang didapat oleh Beckham, ternyata “masih kurang mahal” dibandingkan para atlet di cabang golf, yakni Tiger Woods, ataupun para atlet basket seperti Shaquille O’Neill, Kobe Bryant dll.
30 January, 2007 | No comments
Tukul Arwana, Menjual Kepolosan
Ada kejadian menarik saat saya sedang makan malam di sebuah restoran padang
ditengah kota Surabaya. Saat itu waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
Waktu yang sangat larut untuk sebuah makan malam. Setelah makanan
dihidangkan dimeja saya, para pelayan bergegas ke arah televisi dan segera
merubah channelnya. Sambil makan saya perhatikan ternyata mereka menonton
channel Trans7. Acara yang saya lihat adalah semacam talk show yang
dibawakan oleh seorang pelawak yang saya tidak ingat namanya tetapi wajahnya
tidak asing. Samar-samar saya mendengar para pelayan menyebut nama Tukul, ya
itulah nama host acara talk show tersebut.
17 January, 2007 | 2 comments
Opini dari Fajar - Yogyakarta
TUKUL ARWANA
“Kembali ke Lap … top!!!”
Kalimat itulah yang akhirnya jadi khas dan menjadi “trade mark” untuk acara “Empat Mata” yang disiarkan oleh Trans7 (TV7). Cuman kesan yang muncul di masa awal penanyangannya adalah kesan … nih host acara koq harafiah banget … Lazimnya, ketika obrolan dengan bintang tamu mulai meluas dan tidak fokus, pembawa acara/host akan segera memotong pembicaraan dengan ucapan ; “kembali ke pertanyaan”, “kembali ke topik” … eh Tukul Arwana dengan enaknya ngomong …
“Kembali ke Lap … top!!!”
Ngerti po ora boso kuwi mas? Bali wae ning ndeso yen ra mudeng ... hehehe
Hak cipta ditanggung sendiri oleh pembaca - Isi dari website bukanlah pernyataan resmi atau mendeskreditkan Tukul Arwana.
Isi adalah semangat kebersamaan para pecinta Tukul Arwana. Website ini berstatus BO (Bimbingan Orangtua)
Semua isi bertujuan untuk kocok-kocok perut Anda, tanyalah kepada Orang Tua bila tidak ngerti maksud bahasa diatas
Generasi muda sekarang lebih suka bahasa kota drpd bahasa NDESO. Bahasa NDESO lebih dimengerti oleh orang tua Anda.
Ajarkanlah Anak Anda Bahasa Ndeso, baru Bahasa Kota, trus Bahasa lain (Inggris, Belanda, Bali, Sumba, Papua, dll).
Ojo lali kowe Le, asalmu ki teko ndeso, pelosok, hutan sana lo, melu boso ndeso artine melestarikan budayamu dewe,
ben ra punah. Conto'nen masmu Tukul Arwana kuwi.






