Pages
-
Archives
-
Categories
-
Link List
17 January, 2007 |
Opini dari Fajar - Yogyakarta
TUKUL ARWANA
“Kembali ke Lap … top!!!”
Kalimat itulah yang akhirnya jadi khas dan menjadi “trade mark” untuk acara “Empat Mata” yang disiarkan oleh Trans7 (TV7). Cuman kesan yang muncul di masa awal penanyangannya adalah kesan … nih host acara koq harafiah banget … Lazimnya, ketika obrolan dengan bintang tamu mulai meluas dan tidak fokus, pembawa acara/host akan segera memotong pembicaraan dengan ucapan ; “kembali ke pertanyaan”, “kembali ke topik” … eh Tukul Arwana dengan enaknya ngomong …
“Kembali ke Lap … top!!!”
Kepindahan M. Farhan dari TRANSTV ke ANTV merupakan sebuah langkah yang cukup menarik perhatian khalayak pertelevisian di Indonesia. ANTV yang saat itu benar-benar tidak bergairah, begitu FARHAN masuk menjadi salah satu konseptor format acara ANTV, tidak lama kemudian ANTV mulai memperlihatkan perubahan-perubahan signifikan. Setelah sukses membawakan LEPAS MALAM di TRANSTV, Farhan berhasil membuat sebuah talk show di ANTV … dengan identitas dia yang lebih terekspose. Tidak tanggung-tanggung acara tersebut dilabeli “OM FARHAN”. Tidak lama “Om Farhan” menjadi salah satu unggulan ANTV. Hampir tiap hari kita disuguhi obrolan-obrolan yang ringan sekaligus mendalam. Kita tidak ragu, kalau M Farhan memang seorang konseptor acara dan sekaligus host yang kreatif.
Sementara itu, di stasiun TV lain (saat itu masih TV7), setiap Minggu malam, hadir sebuah acara talkshow serupa dan yang mengejutkan, acara tersebut dibawakan oleh Tukul Arwana, seorang komedian. Bisa dibayangkan, “kekhawatiran” penonton ketika melihat seorang komedian (yang naif, ndeso, katro’, dst) membawa acara yang teramat sangat “berat” dan “dalam” (paling tidak menurut saya). Ternyata “kekhawatiran” tersebut justru menjadi keasyikan tersendiri bagi penonton EMPAT MATA. Yang dirasakan adalah adanya kejutan dan keterkejutan. Bisa dibayangkan betapa Tukul Arwana yang sebelumnya tercitrakan ndeso tiba-tiba harus membawakan sebuah acara di mana dia harus berperan utama dan harus mampu membawa ritme acara tersebut dari awal sampai akhir.
Ketika (akhirnya) acara tersebut diformat harian, bisa menjadi alternatif acara yang cukup menggoda untuk ditonton. Seorang M Farhan, dengan “Om Farhan”-nya, akhirnya harus rela “didahului” 30 menit, oleh “Empat Mata” yang “dikemudikan” oleh Tukul.
Berprospeknya “Empat Mata” dibanding Om Farhan, bisa kita cermati dengan memilihnya Pepi untuk bergabung dengan EMPAT MATA. Kita tidak tahu, apakah karena diintimidasi oleh Tukul, kemudian Pepi lebih memilih bergabung dengan EMPAT MATA.
Kehadiran si Pepi, yang juga pernah hadir di “Om Farhan”, merupakan penyedap “Empat Mata”. Betapa tidak, Tukul (secara pribadi atau menurut arahan program director) tidak ragu untuk memberi porsi kepada Pepi untuk berperan sebagai co-host. Bukan tidak mungkin, clethukan dan senthilan si Pepi sudah juga menjadi kejutan yang kita tunggu. Hal yang sama juga diberikan kepada Vega “Ngatinem”, waitress di Barnya “Empat Mata”. Dalam hal ini, Tukul mempunyai kemampuan untuk berbagi dengan pendamping-pendampingnya. Mungkin baru ini, ketika seorang host tidak lagi dominan dalam mengantar sebuah acara.
Belum lagi, ketika kewibawaan host menjadi sebuah hal yang tidak lagi perlu dijaga. Betapa tidak, seorang bintang tamu “Empat Mata” dengan sah-sah saja melecehkan host acara. “Empat Mata” edisi Model, yang menghadirkan Donna Harun, Robby Tumewu, Arzeti Bilbina dan Olga (ExtravaganzABG), memperlihatkan bagaimana seorang HOST dicuekin oleh bintang tamunya. Inilah magnet lain “Empat Mata”.
(bersambung)
Muhammad Fajar - masfajarbagus[at]yahoo.com
Krapyak Wetan 98,
Panggungharjo,
Sewon, Bantul
Daerah Istimewa Yogyakarta
2 comments to “Opini dari Fajar - Yogyakarta”
Delio_timorLeste, March 3rd, 2007 at 1:33 pm:
-
Hi, moncong
Siangnya di Negara saya Timor leste Perang.
Malamnya Semuanya peace abis, sambil watching 4Mata.
Eh, Jelek bener muka loe..Tapi kok bisa damaikan negaraku ya walau seketika….
Ari_Arwana, March 28th, 2007 at 12:05 pm:
-
Tekad,Semangat seoraNg “TukuL arWAna”
gW saLut banGET dengAN perJuanGAN “maS tuKUL” yang berjuaNg tanpa pernah putus asa,tetap semangat,dan tekad yang begitu besar….
saat para penguasa kita meminta kenaikan gaji dan tunjangan yang begitu besar,,,,dikehidupan Lain,,seoraNg “Tukul arwaNa” memberi contoh yang sangat Agung dan mulya…untuk mencari sebuah kesuksesan memang harus benar2 diwali dengan kerja keras dan semangat serta tekad yang kuat.dan terbukti…kesuksesan seorang Tukul arwana bisa memberi MOTIFASI yang begitu tinggi untuk Negeri INI dan para oraNG2 “NDESO” supaya tidak putus asa dengan nasib mereka.SeoraNg “TukuL arwaNA” teLah memberi bukti bahwa setiap orang mempunyai kesuksesan yang sama,tinggal usaha, Semangat,dan tekad untuk bisa merubah diri,bukankah diluar sana banyak “oraNg2 suKSES” yang semua berawal dari noL…
NB:_______
BuaT seLuruH peNGhuNi Negeri….jangan pernah bermimpi untuk menjadi orang sukses (kaya raya) melalui kekuasaan…..untuk menjadi orang yang sukses…”TukuL Arwana” sudah memberi Ilmu dan pengalamanya….Makasih “Guru Besar Motifatorku”___”Guru Besar TukuL Arwana”,,,,,
Your comment:
You must be logged in to post a comment.
Ngerti po ora boso kuwi mas? Bali wae ning ndeso yen ra mudeng ... hehehe
Hak cipta ditanggung sendiri oleh pembaca - Isi dari website bukanlah pernyataan resmi atau mendeskreditkan Tukul Arwana.
Isi adalah semangat kebersamaan para pecinta Tukul Arwana. Website ini berstatus BO (Bimbingan Orangtua)
Semua isi bertujuan untuk kocok-kocok perut Anda, tanyalah kepada Orang Tua bila tidak ngerti maksud bahasa diatas
Generasi muda sekarang lebih suka bahasa kota drpd bahasa NDESO. Bahasa NDESO lebih dimengerti oleh orang tua Anda.
Ajarkanlah Anak Anda Bahasa Ndeso, baru Bahasa Kota, trus Bahasa lain (Inggris, Belanda, Bali, Sumba, Papua, dll).
Ojo lali kowe Le, asalmu ki teko ndeso, pelosok, hutan sana lo, melu boso ndeso artine melestarikan budayamu dewe,
ben ra punah. Conto'nen masmu Tukul Arwana kuwi.






