Tukul 'Reynaldi' Arwana | Quick Thinking & Response
Sponsored by Hosting Indonesia

Pasar Seni Lukis Indonesia

World Silent Day

Blog Hosting Indonesia, Domain Name, dan Bali Web Design

 


Web Statistic
eXTReMe Tracker
http://www.baliorange.net

14 March, 2007 |

Tukulisme dan Pendangkalan Ruang Publik

Dalam tulisannya, Pendidikan Anti-Tukulisme (Media Indonesia, 1 Februari 2007), Paulus Mujiran mengajak kita merefleksikan satu jenis talkshow yang hari-hari ini menyedot perhatian khalayak: Empat Mata. Melalui kacamata pendidikan, tulisan Mujiran berhenti pada kesimpulan bahwa ada kekeliruan dalam pendidikan di negeri ini sehingga masyarakat begitu menggemari acara “olok-olokan”, lontaran penuh seronok, dan tertawaan yang mengeksploitasi fisik a la Tukul Arwana.

Mujiran menyebut penggemar talkshow yang dibawakan secara ngawur oleh Tukul tersebut sebagai Tukulisme. Tukulisme inilah yang dipandang Mujiran sebagai cermin dari buah pendidikan yang anti-pluralis, yang mengesampingkan penghargaan terhadap keragaman, baik agama, status sosial, cara hidup dan sebagainya. Satu jenis pendidikan yang memang masih sangat jarang kita dengar, apalagi kita temui, dalam masyarakat yang serba multi; etnis, agama, ras, bahkan kelas sosial. Olok-olokan seperti wong ndeso, katrok, kutu kupret dan sederet sumpah serapah lainnya menegaskan bekerjanya “kekerasan psikologis” terhadap mereka yang lekat dengan istilah-istilah tersebut.

Dari sudut pandang pendidikan apapun; keagamaan, etika, apalagi psikologi, Tukulisme jelas tidak mengajak pemirsa dalam berjuang meraih kualitas kehidupan. Justru yang terjadi adalah mewabahnya olok-olokan dan tertawaan tersebut di tengah-tengah masyarakat, tak hanya Jawa, ruang kultural produsen beragam istilah yang meluncur dari mulut Tukul. Bahkan temen-temen di Lampung, Medan, Samarinda, dan Palu, yang sering berkomunikasi dengan saya juga turut merayakan olok-olokan khas Tukul. Hal sama saya jumpai pada obrolan anak-anak remaja yang begitu suka pada kosakata tersebut.

Perayaan inilah yang saya kira baru mewabah di seputar masyarakat sebagai ekspresi penerimaan pada satu tren komedi yang sebetulnya tidak baru dalam dunia hiburan kita. Tren olok-olok-an dalam dunia lawakan telah diawali oleh para komedian seniornya Tukul, misalnya yang paling populer adalah Srimulat. Banyak pula komedian mutakhir yang menyontek gaya Srimulat dengan “melestarikan” tradisi olok-olokan melalui gaya dan bahasa berbeda.

Begitu pula dengan Tukul (dan segenap kru). Mereka secara “cerdas” mengemas acara lawakan dalam bentuk talkshow “hancur-hancuran”, sehingga begitu populer. Dari sisi industri entertainmen, acara ini tak lain hanyalah inovasi dari beragam tanyangan hiburan “tak berbobot” yang menjejali ruang publik kita.
Untuk melengkapi pemaparan Mujiran, amatan akan hadirnya proses pendangkalan cita rasa masyarakat akibat ruang publik yang tak lagi menyajikan aneka program yang reflektif dan edukatif, patut diketengahkan.

Pemaknaan ruang publik sendiri tidak selalu dirujukkan pada kerangka spatial di mana masyarakat dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara face to face. Arena dan ruang sosial, sejauh ia mampu menampung beragam entitas sosial; individu, komunitas atau perkumpulan, dengan keragaman interes, ia bisa dikategorikan sebagai ruang publik. Ruang publik bisa mewujud secara abstrak seperti media massa dan internet, bisa juga material seperti tata kota, ruang-ruang diskusi, dan seterusnya.
Konsepsi “ruang publik” (public sphere) kali pertama digagas oleh Habermas (1989). Konsep ini merujuk pada “pentas atau arena di mana warganegara mampu melempar opini, kepentingan dan kebutuhan mereka secara diskursif dan bebas dari tekanan siapapun”. Yang terpenting dalam arena tersebut mewujud komunikasi yang memungkinkan para warganya membentuk wacana dan kehendak bersama secara diskursif.

Jika ruang publik dimaknai sebagai bejana yang di dalamnya aneka kelompok sosial mampu mengomunikasikan dan mewujudkan ragam kepentingannya, maka dalam rentang waktu tertentu akan mengkristal satu budaya, dalam pengertian seluas-luasnya. Selanjutnya, akan ada kontestasi budaya di dalam tubuh ruang publik. Tugas ruang publik adalah menampung dan memberi tempat secara fair pada semua kebudayaan tersebut.Persoalannya adalah, pada masyarakat yang kompleks sekarang ini di mana masyarakat di susun oleh tiga pilar utama; negara, pasar dan masyarakat, apakah ada ruang publik yang benar-benar otonom dari kepentingan politik atau pebisnis? Budaya yang meruyak ke tengah masyarakat pun adalah budaya yang telah ditentukan oleh, baik kekutan negara ataupun pasar. Kalaupun ada yang otonom, ruang akan sangat payah untuk diciptakan atau dikelola oleh warganegara.

Kerapkali kita menyaksikan aneka kegiatan publik, seperti debat publik, seminar, dan demonstrasi yang diformat dan ditumpangi oleh kepentingan elit politik atau kaum pemodal. Bahkan, jika ruang publik itu berupa media massa yang berskala masif, baik berupa TV, koran, atau radio, tak pelak akan mengacu pada arus kapital yang bekerja di belakangnya. Masing-masing industri media memiliki logika kapitalnya sendiri. Tak jarang kompetisi mewarnai aneka media tersebut dalam rangka berebut pengaruh dan berlomba meraup keuntungan.
Seperti industri TV. Dengan sebelas stasiun TV swasta nasional, maka kompetisi yang berlangsung adalah perebutan kue belanja iklan. Celakanya, kompetisi ini berujung pada perebutan skor rating tertinggi, yakni yang paling banyak ditonton publik, karenanya belanja iklan akan tinggi. Wajar kiranya kini, banyak media yang dituduh “menghamba pada rating”, karena kebanyakan program yang disiarkan oleh TV swasta hanya mengejar rating semata. Tak peduli jika program itu berperan besar dalam pembodohan massal, memopulerkan mistisisme, atau meritualkan “budaya” olok-olokan kepada masyarakat, maka program semacam itu akan diperpanjang menjadi 250 episode, misalnya.

Mewabahnya secara cepat dan massif “budaya” Tukulisme terhadap kehidupan masyarakat kita, jelas merefleksikan betapa hebatnya dampak dari bekerjanya salah satu ruang publik berupa media TV. Merujuk pada paparan McChesney (1997) media, di tangan rezim pasar bebas, bahkan mampu mendikte aneka preferensi publik, mulai dari gaya hidup, pola konsumsi, kebutuhan barang dan jasa, sampai dengan yang bercorak politis, seperti figur pemimpin. Dengan demikian, apa yang kita tonton, selera yang kita tentukan, dan pilihan-pilihan kita, sebetulnya telah diformat dan didikte oleh kehendak pasar, termasuk saat menertawai polah Tukul ketika sedang mengolok-olok diri, tamu, dan penontonnya di acara Empat Mata.

Kapitalisasi terhadap segala macam program yang tak cerdas hampir-hampir menggelinding tanpa kendali. Ia akan mengeksploitasi dan menjual apapun asalkan pengiklan berjubel datang dan antri untuk memasang iklannya, mengiringi penayangan program itu. Mulai dari acara “mengobrak-abrik” rumah tangga selebritis, mendramatisir secara mistis jasad-jasad manusia, dan terakhir “hancurnya” si Tukul. Saya rasa, sepak terjang kapitalisme sudah terlampau jauh, bahkan terkesan keterlaluan.
Media televisi, sebagai ruang publik, justru andil besar dalam penjerumusan masyarakat pada “pendangkalan ruang publik (the swallowness of public sphere) (Piliang, 2005). Ini terjadi ketika ruang publik cenderung dibangun oleh representasi atau tindakan yang menafikan pengetahuan luas, landasan filosofis, dan moral yang kokoh. Kondisi ini juga disebabkan oleh kepentingan penguasaan ruang publik oleh strategi populer, meski popularitas tersebut menafikan pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan sesungguhnya. Lebih parah lagi, jika hal tersebut dilengkapi dengan hiburan yang “eksploitatif”.

Perayaan “kebodohan”, “kekampungan”, dan “gaptek” secara massif, akan serta merta mengikis kualitas kehidupan yang ber”selera” dan berpijak pada rasa. Sedangkan pemassalan dan pembiasaan “serapah” secara terbuka dan penuh bangga, pelan-pelan akan menggerus estetika dan juga etika di kalangan warga, lebih-lebih bagi mereka yang baru menginjak remaja.

Sudah saatnya menghentikan pencemaran pada ruang publik kita, dengan mengabaikan sama sekali aneka tayangan yang tak masuk akal, dangkal, tak edukatif, dan mendegradasi selera humor kita.

Oleh: Muhammad Syihabuddin
(Dosen Ilmu Pemerintahan Fisip Unila, Anggota Forum Lafadl Initiatives Yogyakarta)
Sumber : http://lafadl.wordpress.com/2007/02/28/tukulisme-dan-pendangkalan-ruang-publik/

32 comments to “Tukulisme dan Pendangkalan Ruang Publik”

puruhito, March 20th, 2007 at 3:10 pm:

  • Saya pernah baca (atau pernah dengar), bahwa “orang yang mampu mentertawai diri sendiri adalah orang yang akan sukses dalam kehidupannya”. Artinya adalah seseorang yang memiliki kemampuan utk bisa melihat kekurangan2 pada dirinya dan tidak malu mengakui kekurangan2 dirinya tsb. adalah seseorang dengan jiwa besar… dan seseorang dengan jiwa besar amat sangat berpotensi untuk menjadi orang besar.

tukulisme, March 20th, 2007 at 4:18 pm:

  • kebebasan berpendapat adah hak seluruh warga negara.
    kebebasan melawak juga hak seluruh warga negara.
    kebebasan mencari rejeki adalah hak seluruh warga negara.

    selama kebebasan itu tidak merugikan orang banyak.

    apakah kita merasa dirugikan oleh Mas Tukul…….?

    saya menjawab : TIDAK

    bagaimana dengan anda….?

soetrisno, March 20th, 2007 at 6:37 pm:

  • Sungguh Aneh memang Di negeri ini,aneh dan edan,orang yg intelektual tapi kelakuannya,…..
    cuma komedi tapi udah di ulas sedemiakian..tujuan komedi itu apa??
    untuk menghibur dan memberikan refresing pada otak,
    disini tokoh TUKUl bisa MEMOTIVASI seseorang,bahwa kesuksesan itu perlu kerja keras dan tak harus tampang yg sempurna serta INTELEK,dan kenapa negri ini terpuruk?? karena orang intelek kadang gak mau kerja keras dan hanya mau mengambil jalan pintas,KORUPSI,yach inilah yg membuat negeri ini terpuruk,bagi nara sumber gunakanlah ilmu anda untuk kebaikan dan klo mengulas liat juga positifnya jgn cuma iri jadilah orang indonesia baru,sebab orang indonesia skrng itu cuma berpikir negatif klo liat suadaranay sukses.
    ingat dgn adanya tukul bahwa orang ndeso itu gak usah minder sama orang kuto, …

fauzan, March 21st, 2007 at 12:34 pm:

  • Itulah dunia intertaintment yang salah satu tujuannya adalah untuk mengintertaint/menghibur penonton. Kalau acara itu dibawa di dalam kelas memang akan membawa dampak yang kurang baik (Atau mungkin malah muridnya semakin menjadi cerdas….kayak feedback yang disampaikan Mas Tukul….???? Siapa tahu?). Masyarakat kita sekarang makin cerdas koq, bisa memilah dan memilih mana yang baik dan yang tidak baik. Yang jelas varietyshow yang dibawakan Mas Tukul membuat dahi kita tidak semakin menyempit kalau melihat tayangan televisi karena berbagai macam persoalan yang ada di tanah air ini, tetapi terus terang saja saya bisa tertawa (walaupun kadang-kadang sendiri, karena anak isteri sudah pada tidur). Ok…4Mata Trans7….onward no rethreat, tayanganmu sungguh menghibur banyak orang.
    Salam dari Kampus Biru Yk.

Deny Rosadi, March 21st, 2007 at 2:06 pm:

  • Kalau kita amati, sejatinya ditengah masyarakat ini sedang terjadi pergeseran nilai, Sadar atau tidak, disekeliling kita (baca: lingkungan kita), masyarakat sudah tidak lagi mengindahkan nilai-nilai tradisional (kearifan Lokal). Tidak mau lagi terikat dengan kaidah-kaidah leluhur yang dianggap sudah “Usang”. Mereka lebih memilih gaya hidup bebas, semau gue, serta tidak lagi peduli dengan apa yang disebut kriteria kebaikan dan keburukan. Yang menjadi pertanyaan sekarang, Apa yang terjadi dengan masyarakat kita? Gejala kehidupan macam apa yang sebenarnya tengah terjadi di masyarakat Kita?

    Tidak mudah menjawab pertanyaan di atas. Berbagai asumsi bisa saja muncul dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Ada sebuah tulisan di harian Ibukota tentang “Masyarakat yang Permisif” yaitu masyarakat yang serba boleh. Mengutip ungkapan Roderic C Meredith yang menggambarkan kondisi masyarakat modern dewasa ini sebagai masyarakat serba boleh (permissive society). Menurut Dia, permissive society tidak mengakui kebenaran abadi. Di dalam permissive society, seseorang bebas berbuat apa saja sesuka hatinya. Menurut masyarakat permisif, persoalan baik buruk, salah benar, dan berbagai persoalan lainnya adalah urusan manusia sendiri tidak ada kaitannya dengan Tuhan.

    Gejala ini memang sudah tampak jelas, dimana dulu Bangsa Indonesia yang terkenal dengan sopan santunnya, kini seakan akan sudah mulai hilang. Misalnya bagaimana orang dengan mudah mendiskreditkan cacat fisik, kekurangasempurnaan tubuh manusia, dianggap suatu hal yang wajar

    Beberapa hari lalu saya juga membaca sebuah artikel dengan Judul “Pendidikan Anti Tukulisme”, saya perhatikan ada yang aneh dari judulnya, karena saya baru dengar istilah “TUKULISME”. Artikel tersebut ditulis oleh Paulus Mujiran di Media Indonesia (Edisi Kamis, 01/02/2007).

    Dalam tulisannya, Paulus Mujiran mengungkapkan keresahannya terhadap fenomena yang terjadi akhir-akhir ini dengan munculnya sebuah tayangan Talk Show “Empat Mata” dengan host Tukul Arwana”. Kenapa Pak Paulus resah dengan TUKUL?. Keresahan Pak Paulus Mujiran ini ternyata terletak pada guyon TUKUL yang dirasa tidak mendidik bagi masyarakat. Materi Lawakan Tukul yang sebagian besar dengan bagian-bagian tubuh yang melekat pada TUKUL ARWANA, mengumbar kalimat yang seronok, gerakan-gerakan yang membakar Emosi orang dewasa, serta banyolan-banyolan yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Menurut Pak Paulus, Acara tersebut dapat melahirkan ekses Negatif bagi masyarakat. Memang Tukul kadang menghadirkan Tamu dengan menampilkan perbedaan yang mencolok, Contoh kasus acara kamis malam (Edisi 15 Maret 2007) bagaimana Tukul menghadirkan Wibowo Bersaudara dan Azhari bersaudara, dan di akhir acara Tukul menampilkan Kakaknya, Mbak Kowiyah. Bagaimana Tukul dan Kru ‘Empat Mata” mengeksploitasi kekurangan keluarga Tukul dan Pribadi Tukul sendiri. Menurut Pak Paulus, Tereliminasinya sikap penghargaan terhadap realitas perbedaan kondisi seseorang dengan lainnya adalah ekses negatif yang tampak jelas hadir dalam tayangan tersebut.

    Saya setuju bahwa memang telah terjadi “pergeseran nilai” di tengah-tengah masyarakat. Mulai dari level paling bawah sampai level atas. Bahkan (benar), bahwa pergeseran nilai tersebut telah menjadi FENOMENA yang sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Adanya masyarakat yang permisif adalah akibat dari pergeseran tersebut.

jan-mbuh, March 22nd, 2007 at 1:44 pm:

  • mbuh ah..
    yang diomongin orang pinter ini apa seh??gak ngerti aku..
    yang jelas aku gak perlu analisa kaya gini kalo cuma pgn nonton tukul aja.buat apa??
    aku cuma wong ndeso yang menikmati hiburan dengan apa adanya. kalo ada yang lucu ya aku ketawa..
    gak usah mikir kenapa,pantes atau gak aku ketawa atau dia diketawain,semuanya tergantung naluri awam aja. kalo mikir yang aneh-aneh malah gak jadi terhibur…

wongndeso, March 22nd, 2007 at 6:45 pm:

  • Paulus Mujiran haaaaa heeee, geli denger namanya
    Nama kok paulus mujiran ndeso, kampungan, kutu kupret.
    orang seperti ini yang harus kita, segera hentikan. Yo, sak karepku to, yen aku seneng nonton thukul, arep ngopo kowe, dasar wong ndeso.
    Apakah jelek kalo membuat orang lain bisa ketawa, …………….
    dasar wong ndeso, katrok maneh…

    Ran…. ran… mulih neng ndeso kono macul, rasah sok keminter.

    Maju terus kulll…

supri, March 22nd, 2007 at 11:50 pm:

  • ha..ha..ha.. Tukulism is a new discourse in our country. Ini sebuah fenomena yang menarik, wong ndeso yang sukses lebih baik daripada wong kutho atau pejabat publik yang korup. Guyonannya lebih sehat daripada korupsi, at least Tukul lebih jujur daripada narapidana yang mau meyuap 11 miliar. Wacana tukulisme merupakan ungkapan yang paling jujur karena ia memperolok dirinya sendiri. Tukulisme telah menjadi ikon budaya populer dengan ungkapan-ungkapan yang dianggap ndeso. Pls baca bukunya Fairclough “Discourse and Social Change”, maka Andapun akan terkesima dengan apa yang telah dilakukan team kreatif empat mata. Tukul has been the agent of change. Inilah profil “wong ndeso” yang rendah hati,yang mewakili kaum tertindas di negeri ini yang hanya mampu mentertawakan diri sendiri. Go ahead Tukul, thanks for being my inspiration.

    Sukses untuk mas Tukul “Reynaldi” Arwana

Nuraqli, March 23rd, 2007 at 10:32 am:

  • Biar Orang Pintar Omong sana omong sini dimedia masakah atau ditelivisi apasih yang dia bisa untuk negeri ini tidak juga pernah berubah jadi baik malah banyak yang pintar membohongi masyarakat

    maju terus tukuler pantang mundur

adhitya, March 23rd, 2007 at 11:35 am:

  • Setelah melewati hari-hari kerja yang sangat memusingkan..

    Setelah melewati ruwet dan carut marutnya lalulintas kota yang diwarnai dengan polusi dan kepadatan yang luar biasa..

    Setelah melihat berita-berita diTelevisi yang berisikan musibah kecelakaan, kelaparan di berbagai wilayah Indonesia, bencana alam, yang membuat miris hati melihat saudara-saudara kita menderita

    Dan setelah memikirkan dan menjalani kerasnya hidup di negeri kita tercinta ini.,

    Kehadiran mas tukul dengan acara empat-matanya bak ’setetes air di tengah padang pasir’,.
    yang dapat membuat kita terhibur,,
    membuat kita tersenyum,,
    dan membuat kita terinspirasi, untuk berani menertawakan diri sendiri.,
    semoga inspirasi ini dapat menjadi sebuah perbaikan diri.,

    Maju terus Mas tukul Arwana!! Kehadiran mas dibutuhkan untuk mengurangi tingkat stress pada masyarakat,.
    tidak perlu mendengarkan pendapat orang yang hanya melihat sisi negatifnya saja., biar masyarakat yang menilai.,
    wassalam..

wongndeso, March 23rd, 2007 at 11:37 am:

  • Opo maneh Deny Rosadi, katrok ndeso… kampungan…
    Sok pinter… neng keblinger.

    Mau jungkir jempalitan, hak nya masing-masing, yang penting tidak melanggar Undang-Undang.

    Dari pada orang kota seperi itu tapi pikirannya ndeso, katrok. Mendingan Thukul ndeso neng pikiran kota.

    Mungkin lebih berguna thukul dilingkungan masyarakat dari pada den baguse Paulus Mujiran dan wong ndeso Deny Rosadi yang kutu kupret.

    salam,
    Thukuler

mblasuk, March 27th, 2007 at 4:35 pm:

  • hallloooo semua…de thukulers
    aku setuju sama de thukulers…orang-orang pinter terlalu sibuk mikir,sampai sampai hal yang tidak perlu dipikirin dipikirin juga, biar saja tukul dengan apa adanya dia..dia memang ga cerdas, bukan sarjana atau apalah..tapi dia menghibur kita semua…Om Mujiran mending mikir anggota DPR yang pengin Laptop juga, mereka takut disaiangi tukul tuh…ga usah mikir tukul…ntar tambah rumit..wong ndeso kaya gitu ga usah dipikirin..dia pasti ga akan ganggu Om Mujiran yang intelek…oohhhhh…ato Om Mujiran ga pernah liat 4 mata ya,kalo udahan Tukul dilang gini..Just Kiding Just For Laugh tidak ada maksud buat melecehkan siapapun…udah ahhh aku jadi mumet mikirin Om Mujiran yang pinter…..
    Go Tukul…go….

globaltukul, March 27th, 2007 at 5:10 pm:

  • Banyak orang yang menganggap dirinya pintar sehingga mereka dengan pikiran idealisme nya memberikan suatu pukulan pendapat yang mereka anggap itu adalah sebuah kritik membangun , saya pribadi menyukai sekali acara empat mata dengan karakter tukul yang polos , saya enjoy sekali dengan acara empat mata , tetapi yang membuat saya sedih mengapa mereka yang mengkritik tukul dengan bahasa yang sedemikian rupa sehingga dapat menunjukkan kesombongan dan secara tidak langsung supaya disebut pandai dan berpendidikan , tetapi mereka tidak melihat apa yang sudah mereka perbuat selama ini untuk menyenangkan masyarakat, bisa kah mereka berbuat seperti tukul yang setiap hari dapat menghibur jutaan orang, yang bisa mereka lakukan hanya mengkritik yang pada realitanya hanya hampa belaka ,saya disini melihat suatu fenomena yang menarik yang bisa diambil pelajaran bahwa masyarakat sudah bosan dengan Talk show yang serius yang justru bagi mereka yang menganggap diri mereka itu tontonan high class , masyarakat juga sudah bosan dengan talk show yang katanya memberikan suatu solusi justru pada realisasi kehidupan sehari-harinya tidak terwujud ,masyarakat senang setelah empat mata muncul dengan lawakan tukul yang ringan dan santai tidak perlu serius , masalah langgeng atau tidak nya bukan Pak Paulus atau Pak Deny Rosadi yang menentukan sebab siapakah kita yang bisa menghakimi akan suatu hal , memang ada kalanya orang pandai kalah dengan orang beruntung , biarkan seleksi alam yang menentukan , dan biarkan jam 9.30 untuk melepas keseriusan stress setelah bekerja , maka saya salut dengan mas tukul , anda harus maju terus , seperti yang anda bilang ” anjing menggongong kafilah timpuk saja ” . .

    regards

    global tukul

roughneck, March 28th, 2007 at 9:07 am:

  • Tukulisme,,,???
    Ada yang salah dengan satu paham baru ini,,??? Atau justru bakal menjelma menjadi satu paham baru yang agaknya akan mengakar di negeri kita,, (hmmm,,,semua tergantung pilihan kita,,,)
    Bukan sebagai intelektual tinggi, dan bukan pula sebagai aktivis,,(karena memang saya bukan orang-orang seperti itu,,) namun sebagai satu dari jutaan “THUKULERS”, saya jelas cukup tersentil lewat pernyataan Paulus Mujiran tersebut,,
    Diungkapkan “Melalui kacamata pendidikan, tulisan Mujiran berhenti pada kesimpulan bahwa ada kekeliruan dalam pendidikan di negeri ini sehingga masyarakat begitu menggemari acara olok-olokan,,,,,”

    “,,,sirik tanda tak mampu,,,”
    Itukah yang perlu saya sampaikan untuk menanggapi kritik Mujiran,,??
    Mungkin beliau seorang cendekiawan, atau mungkin beliau seorang pemerhati masyarakat (sumpah dah, saya sendiri gag tahu orangnya kaya apa,,,??!!), saya sendiri,,?? Hanya mahasiswa yang sangggaatt menikmati acara tsb…
    Yang jelas pemikiran “in-telek” seperti itu jelas gag punya makna sebagai sesuatu yang membangun bersama (kata bapak-ibu dosen win-win solution,,,,) Progresifitas anda memadai sebagai satu pemerhati, tapi egoisme anda bermain cukup kental,,, INGET BUNG, kita hidup bukan untuk diri sendiri,,,!!!

    inget kata-kata Tukul,,??
    “JUST FOR LAUGH,,, JUST FUN,,,”

    Para pengkritik, sadarilah bahwa anda sendiri juga pasti sangat terhibur dengan acara tersebut,,,!!! Gag perlu “muna” mengakui kalau anda juga nyatanya mengikuti acara ini kan,,,?? Hehehehe,,,,,, pizzz,,,,!!!!

karruza, March 30th, 2007 at 5:53 am:

  • wah mas.. ayah saya ini kerja dari pagi sampai malam, dan hanya terus di pusingkan dengan berita berita yang itu itu aja.. sebut saja ttg almarhumah Alda Rizma yang belum selesai, perceraian artis dan belum lagi ulama yang baru2 ini malah berpoligami.. ayah saya juga sudah agak muak dengar lumpur lapindo nah dengan adanya tkul ini saya dan ayah saya malah bersyukur
    masih ada talk show yang isinya gak cuma bikin orang terkuak masa lalunya dan pertanyaan yang mengiris dalam lainnya, pertanyaan yang di lontarkan si tukul dari laptopnya itu memang saya akui agak dangkal tapi justru itulah mungkin yang di cari pemirsa seperti saya, tak berbelit2 segar dan selalu di belokkan dengan banyolannya yang selalu segar.. bener2 refreshing bgt deh setelah seharian dibikin pusing sama infotainment dan berita kriminal maupun beria kondisi negri kita ini, yah betul itu slogannya , fast thingking! itu yang Indonesia butuh sekarang dan juga rakyat jangan dibuat pusing terus dong biar bisa mikir lagi ingat penyembuh penyakit 80%nya adalah sugesti dan positive thingking,, hhe ^_^ thx ya

sunantoro, March 30th, 2007 at 7:51 am:

  • Orang itu, kalau sedang berada di “Dunia Lain” mbok ya tidak usah memberikan ulasan. Hasil ulasannya akan pasti “miring”.
    Siapa bilang Paulus Mujiran orang intelektual. Nulis bahasa inggris saja masih belepotan, “dangkal” dia inggriskan menjadi “Swallow” !

epreex_katrok, March 30th, 2007 at 12:12 pm:

  • cape mikirin sing koyok ngono..
    sing penting aku seneng, masyarakat seneng, mas tukul seneng, kabeh-kabeh seneng…

    beres persoalan…titik…
    ojo lali nonton Mas Rey ngkok mbengi..

    salam kanggo kabeh Thukulers…

    Ass. Wr. Wb

    -TukulHolic Mbandung-

The_Xploders, April 6th, 2007 at 12:16 am:

  • Weleh-weleh seng jenenge paulus iku ngurusi wedhus ae!!! nggaya sok in….telek mblenyek!!!
    sampeyan iku apa yo tidak ngguyu kalo nonton Too-Cool arwana??? Di tengah bencana yang melanda di Indonesia kita sudah cukup sedih makanya masyarakat kita itu butuh hiburan percuma sampeyan nganalisis tukul. wes talah ra usah nggaya poll!!! gitu aja kok repot!!! tetep too-kool tetep katrok tetep ndeso. contoen iku mbah paul___us, dengan usaha keras mas too-cool dia bisa menjadi sukses itu mejadi motivasi saya biar saya bisa sukses dengan usaha keras saya. hidup tookoolleerrrrs.

tumini, April 11th, 2007 at 2:03 am:

  • Sdikit flashback dulu nih, Mungkin Mas Paulus atau Mas Muhammad pernah nonton ketoprak humor atau srimulat? nah acara semacam itu tergolong sukses dan digemari masyarakat pada jaman jaya2nya dulu. Jika kita melihat sedikit kebelakang, budaya olok2an atau joke2 semacamnya sudah beredar di acara2 tersebut. Nah skarang, apakah salah kalau masyarakat Indonesia merindukan komedi “ndeso” atau “katro” dengan menjual konsep2 joke yg diperkenalkan oleh senior2nya mas Tukul tersebut? Mungkin ketoprak humor sudah hilang dan srimulat mulai terkikis, tapi generasi skarang ini bisa bersyukur karena kehadiran Mas Tukul dengan joke2 yg walaupun tidak pintar, tapi totaly fun and refreshing. Hey, it is just a joke, its comedy, u dont have to be smart to make other people happy. So buat mas Paulus dan mas Muhammad, get rid those silly text books and tuning in to EMPAT MATA!!

fubar, April 13th, 2007 at 8:48 am:

  • hheemm..saya rasa mas paulus itu memandang acara ini dari sudut yang berbeda sebagai orang yang punya ilmu intelek, tidak seperti mas tukul yang berbanding terbalik dengan anda..baca lagi donk sejarah perjuangan tukul seperti apa…saya rasa, sampai sekarang mas tukul tetap saja dicaci maki, di kritik oleh orang² seperti anda..mungkin mas tukul sangat berterima kasih kepada anda karna telah memperhatikan seorang tukul dari sudut pandang yang umumnya tidak sepenuhnya di dukung oleh orang banyak….klu tukul bisa seperti itu…kenapa anda tidak melakukannya dengan cara yang lain…seaindainya tukul membaca tulisan anda seperti itu, barangkali mas tukulnya ketawa aja… Jangan menghakimi orang laen, klu kita tidak tahu sama sekali. apakah anda ingin dihakimi orang lain juga??? mending mas paulus ngurusin orang yang korupsi nohh…banyak…ngapain seorang tukul di kritisi…pendidikan ga ada hubungannya ma banyolan mas tukul..kembali ke diri kita massing-masing..

    cccaaaapppeeee….ddeehh *ala mas tukuls* ingat ilmu padi mas paulus..renungkan sejenak apa yang telah anda perbuat selama ini, apakah anda sudah membagi waktu kepada orang terdekat anda???

jacko_kate, April 15th, 2007 at 10:47 am:

  • =dosen cari sensasi=
    kebodohan pada diri anda sendiri , mungkin ilmu lebih tinggi tapi pemikiran dangkal ,masyarakat sudah bisa membedakan antara yang baik dan tidak,pandangan paulus alias moh syhabudin hanya sebatas insting nya saja, tak berdasarkan kaca mata luar yang butuh hiburan, yang namanya room publik bukan di class anda ,seharus nya memberi dukungan atau saran yang masuk akal tidak sebalik nya mem bloking orang yang ingin maju ..itulah caracter orang yang iri dan dengki “tak sobek sobek” pantas dibilang katoook..plok plok plok…paece

G.F.F, April 17th, 2007 at 3:54 pm:

  • terserah deh, pada mau ngomong apa. tapi gw gak mau sepenuhnya nyalahin itu Mr.Paulus, Mr.Muhammad or Mr.Deny. Mereka berhak ngutarain pendapat, lagian di kacamata mereka, itulah yang mereka tangkap dari sepak terjang tukul. Saya sendiri? yah… Gw sering juga sih, nonton tukul. Saya nonton lantaran pengen cari hiburan, tapi kalo lagi pengen nonton acara berat, tinggal pilih Kick Andy or acara semacam itu ‘kan? Saya nonton tukul juga gak kena efek apa2. Gw cuman dapet hiburan! that’s all! Gw pengen nonton, ya gw nonton. kalo lagi males, ya gak usah nonton. Mau dibilang pola pikirnya dangkal, mau gimana lagi, toh, banyak yang pikirannya dangkal

wiji thukul, April 30th, 2007 at 10:05 am:

  • yeah..
    ini kan pandangan orang yang makan bangku sekolahan…
    teoretis… dan ndakik-ndakik…(menurutku lho..)

    saya kok setuju mas thukul…
    hidup itu praktek… bukan teori…
    –so simple–

hongkelaresi1, May 8th, 2007 at 3:30 pm:

  • Mr.Paulus Mujiran anda ngasih komentar gitu udah lama ato setelah empat mata sukses?

    kalau anda komen nya baru2 saja padahal mas Tukul ato pelawak yg lain tiap manggul pasti ada Olok-olokan !!

    kalau nada komen nya baru saja saat Mas Tukul/Empat Matas sukses berarti anda sirik

    Pls pls deh
    Mas Tukul kan isa ngilang strezz
    kalau ga ada acara ini masih strezz gue

hongkelaresi1, May 9th, 2007 at 12:43 pm:

  • sry manggul itu manggung

wajan, July 9th, 2007 at 7:28 pm:

  • WONG PINTER KALAH KARO WONG BEJO (orang pintar kalah sama orang beruntung)

    keminter keblinger deh…….

    opo njuk kalo sampean nulis gitu trus bikin harga2 kebutuhan pada turun? mendingan nonton tukul……….

Free Video Clips, July 29th, 2007 at 12:02 am:

  • Free Video Clips

    * To preserve historic content. Financial constraints and/or bandwidth

agungsundaru, September 27th, 2007 at 2:15 pm:

  • Kok malah bikin mumet to mas Paulus Mujiran, aku gak ngerti pendapate sampeyan, sampeyan iki wong sing kakehan mikir tanpa hasil, podo karo wong mikir neng RSJ (Rumah Sakit Jiwa) kae lho.

    Nikmati aja guyonan ala tukul, aku tiap hari nonton tukul, enak habis itu stres hilang.

bambangplg2000, October 5th, 2007 at 12:31 pm:

  • Bener kalau Mas Tukul bilang mendingan jadi orang bodoh tapi tidak minteri orang daripada jadi orang pinter minteri orang. Pak Paulus Mujiran itu gatelan orangnya kalau tidak mengkritik. Bener aja dikritik apalagi salah. Anda ini mengkritik tukul tapi muji jaran…………..
    Sorry just kidding

wongurip, October 13th, 2007 at 2:30 pm:

  • kita harus tau, setiap org itu berbeda dalam memperoleh hiburan. ada yg baca novel sudah terhibur, ada yg nonton india sudah terhibur, ada yg nyopet klo dpt nya banyak terhibur, tapi klo saya harus nonton tukul baru
    terhibur knp ya? klo dibilang kurang mendidik itu relatif tergantung org nya. apakah berita mendidik? ga juga. klo org pikiran nya penjahat dia ga merasa takut dipenjara, ngapain takut
    pejabat aja nyogok bisa bebas kok. masa saya ngga. mungkin pak dosen adalah org ke 1 milyard trilun yg mengkritik mas tukul. maju trus mas tukul tp jgn bibir nya cukup karir nya aja. bye

site, October 29th, 2007 at 7:58 am:

  • greatings

    will read it later

Fadhli, December 1st, 2007 at 10:59 pm:

  • Pak Muhammad Syihabuddin, kayaknya anjuran bapak utk mengabaikan acara kayak acaranya Tukul gak berhasil deh, hahahaha. Buktinya dia dapat piala Panasonic award di bidang pelawak favorit

Your comment:

You must be logged in to post a comment.

Proudly dedicated for Tukul Arwana from Hosting Indonesia Bali Orange Communications
Ngerti po ora boso kuwi mas? Bali wae ning ndeso yen ra mudeng ... hehehe
Hak cipta ditanggung sendiri oleh pembaca - Isi dari website bukanlah pernyataan resmi atau mendeskreditkan Tukul Arwana.
Isi adalah semangat kebersamaan para pecinta Tukul Arwana. Website ini berstatus BO (Bimbingan Orangtua)
Semua isi bertujuan untuk kocok-kocok perut Anda, tanyalah kepada Orang Tua bila tidak ngerti maksud bahasa diatas
Generasi muda sekarang lebih suka bahasa kota drpd bahasa NDESO. Bahasa NDESO lebih dimengerti oleh orang tua Anda.
Ajarkanlah Anak Anda Bahasa Ndeso, baru Bahasa Kota, trus Bahasa lain (Inggris, Belanda, Bali, Sumba, Papua, dll).
Ojo lali kowe Le, asalmu ki teko ndeso, pelosok, hutan sana lo, melu boso ndeso artine melestarikan budayamu dewe,
ben ra punah. Conto'nen masmu Tukul Arwana kuwi.