Pages
-
Archives
-
Categories
-
Link List
4 February, 2007 |
Esai Aulia A Muhammad: Sebelah Mata untuk “Empat Mata”
Kelemahan utama acara “Empat Mata” justru terletak pada hasrat Tukul yang ingin selalu jadi pemain utama. Januari ini barangkali dapat dijadikan sebagai bulan Tukul Arwana. Nyaris semua tabloid memasang foto dan mengulas dirinya. Biogafi pendeknya tercetak di mana-mana, wajah cengengesannya tayang di berbagai infotainmen. Sebabnya satu, keberhasilannya mengampu talk show “Empat Mata”. Keberhasilan yang dinilai fenomenal karena semula kehadirannya justru dipandang sebelah mata. Dan ketika rating “Empat Mata” melejit, iklan antre, “pesona” Thukul pun menjadi topik hangat. Pujian bertaburan. Kesederhanaan dan keluguannya selalu menjadi anggukan.
“Empat Mata” yang semula sekali tayang, jadi tiga kali seminggu, lalu lima kali sepekan. Tawa, canda, idiom khas Tukul pun jadi santapan rutin. “Silent please…”, “Kembali ke lap…top”, atau “Puas?! Puas?!” menjadi populer dan selalu menerbitkan tawa. Psikolog sosial Sartono Mukadis menyebut Tukul sebagai pelawak jenius, karena dapat berpikir secara cepat (quick thinking). Juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng memuji acara yang dibawakan Tukul sebagai lawakan yang menghibur, segar, santai, serta cerdas. Tukul pun, dalam keluguan dan kesederhanaannya, menjadi sempurna. Dan, lihatlah, semua berlomba melahirkan puji-puja. Tukul menjadi “anak manja” media.
Rutinitas Kembar
“Empat Mata” memang populer karena Tukul. Sosok Tukul-lah yang dijual dan menjadi magnit acara itu. Gestur, umpatan, salah ucap, semua jadi terasa memesona, dan menjual. Dan memang begitulah pada mulanya. Seluruh “tipikalitas” Tukul itu memang membuat perut berguncang. Tapi, ketika “Empat Mata” tayang nyaris setiap malam, kelucuan rutin itu menjadi terasa “menyedihkan”. Sebabnya satu, Tukul terpancang pada idiomatikal itu-itu saja. Yang lahir kemudian hanya semacam perulangan dari adegan di malam-malam sebelumnya. Nyaris tak ada kreasi, bahkan ketika yang hadir adalah tamu dengan karakter yang sangat berbeda. Tukul tak mampu bermetamorfosa. Semesta gelak yang kemudian lahir tak lebih tawa yang kering, tawa dari kelucuan yang sudah menjadi semacam hapalan. Apalagi, tipikalitas itu tak hanya tampil di “Empat Mata” Trans|7. Di “Catatan Harian Si Tukul” di RCTI tiap Selasa dan Rabu pagi pun, gestur dan pola-ucap Tukul tak berbeda. Tukul adalah sama di setiap acara yang berbeda.
“Orang suka kalau melihat saya tampil bodoh,” ucap Tukul. Benar. Tapi penonton tentu tidak menginginkan “kebodohan” yang rutin, akting yang tanpa variasi. Tukul abai dalam hal ini. Maka, “swahina”, hinaan pada diri sendiri pun, selalu ajek, sama, itu ke itu saja, dari memonyongkan bibir, gaya pragawan, dan lainnya. Rutinitas kembar ini bahkan sampai pada ucapan pengantar jeda “Empat Mata”, “Oke pemirsa, jangan ke mana-mana, saya akan mengupas lebih dalam lagi setelah…” Tak ada yang beda, baik intonasi dan diksi. Sama. Hapalan.
Rutinitas itu jugalah yang akhirnya membuat magic word “Kembali ke Lap… top” atau “Silent Please” kehilangan daya provokasinya. Bayangkanlah, jika dalan satu jam, penonton harus mendengar “Kembali ke Lap… top” sampai berpuluh kali, bahkan terkadang, seperti tanpa jeda. Eneg!
Pusat Magma
“Empat Mata” memang talk show yang berbeda. Jangan bandingkan dengan acara sejenis seperti “Lepas Malam” dan “Dorce Show” di Trans TV atau “OM Farhan” di Anteve. Kupasan atas sebuah masalah dan atau pada sosok bintang tamu tak lebih dari basa-basi, artifisial, dan acap hanya sarana untuk melahirkan “improvisasi” kelucuan dari Tukul. Bintang tamu adalah “gantungan” atau “picu” agar kelucuan Tukul lahir. Karena itu, untuk mengadopsi “percikan” kelucuan itu, bintang tamu harus siap dikorbankan. Mereka hanya tamu, hanya selingan, Tukul-lah yang menjadi pusatnya. Tukul tampaknya menyadari hal itu. Sebagai pusat, dia harus tampil lebih utama, menjadi fokus kamera.
“Empat Mata” Senin (29/1) secara jelas menunjukkan hal itu. Kehadiran Maia Ahmad, Sarah Sechan, Koming, dan Omas, memang pelengkap. Karena itu, seluruh pertanyaan untuk mereka bukan hal utama. Lihat ketika Tukul bertanya kepada Maia, “Siapa yang kira-kira akan menggantikan Mulan?” Ini pertanyaan yang bagus, dan jawaban Maia tentu ditunggu pemirsa. Maia terdiam sesaat, dan Tukul segera menyela, “Barangkali saya bisa, atau Omas? Kami siap kok diaudisi…” Dan, bergayalah Tukul, dia ajak Omas untuk bernyanyi, melempar joke –yang garing banget– menyita waktu yang cukup lama, membiarkan Maia dan lainnya hanya sebagai pengamat. Cukup. Tukul kembali ke tempat duduknya, dan berkata, “Kembali ke Lap…top”. Habis. Dia tak pernah menuntaskan pertanyaannya. Dan itu sudah menjadi “penyakit” acara ini.
“Maia, bagaimana melampiaskan segala masalah yang menimpamu selama ini?” tanyanya. “Dilampiaskan ke Mas Tukul, boleh?” Tukul pun jejingkrakan, berdiri, dan bersolilukoi kepada penonton. Dia kembali ke tempat duduknya, dan “Kembali ke Laptop…”. Tak ada pertanyaan yang dia kejar. Hal semacam itulah yang membuat Andi Mallarangeng, ketika menjadi bintang tamu, hanya tersenyum kecut. Kehadirannya jadi “bemper” semata. Wajahnya menunjukkan betapa dia tersiksa.
“Setiap pertanyaan saya memang tidak perlu jawaban yang benar. Yang penting lucu saja,” kata Tukul. Masalahnya, tidak semua narasumber bisa melucu suka dijadikan bahan lawakan, apalagi menyangkut SARA (seputar arah rai dan anatomi). Juga untuk hal yang serius, tak semua penonton juga ingin mendengar jawaban yang asal bunyi.
“Kembali ke Laptop” memang membuat banyak hal menjadi aneh dan tidak wajar. Sering, Tukul bertanya satu hal ke bintang tamu. Jawaban ternyata melebar, mencakup berbagai hal. Dan ketika Tukul kembali ke laptop dan bertanya lagi, pertanyaan itu ternyata sudah dijawab dalam pelebaran persoalan yang diungkapkan narasumber sebelumnya. Tukul acap terlongo, dan menyelamatkan situasi itu dengan … “kembali ke lap…top” Dari situ tampak, Tukul tak pernah berani mengembangkan pertanyaan lebih dari yang “ditawarkan” laptop. Atau mungkin sebaliknya, Tukul memang tak diizinkan untuk melakukan pengembangan. Menyedihkan.
“Aku Melucu maka Empat Mata Ada”. Itu barangkali yang disadari Tukul. Dia adalah pusatnya, sang magma. Tukul mungkin lupa, setiap orang tidak akan pernah puas jika hanya mendapatkan hal yang sama. Kerutinan pasti melahirkan kebosanan. Pemirsa tak pernah bisa setia. Dan jika kemasan “Empat Mata” tidak berubah, Tukul masih selalu memakai idiom yang nyaris jadi hapalan, kepopulerannya tinggal menghitung masa. Karena tanpa disadari, Tukul mengubah kekuatannya menjadi titik terlemahnya: selalu tampil apa adanya, bermodal kelucuan yang itu-itu saja.
Sumber: http://layar.suaramerdeka.com/index.php?id=97
16 comments to “Esai Aulia A Muhammad: Sebelah Mata untuk “Empat Mata””
henz, February 4th, 2007 at 12:20 pm:
-
Luar biasa, Cerdas. Ini bisa menjadikan masukan buat Mas Tukul Arwana. Selalu positif thinking ya Mas Tukul. All the best
eman_cute, February 6th, 2007 at 5:13 pm:
-
Gak usah bete Mas Thukul baca tulisan diatas itu….. wong Indonesia pancen senenge mung ngritik padahal tukang kritik belum tentu bisa bikin seperti apa yang Mas Thukul bikin….be your shelf aja Mas….
M E R D E K A…!!!
sigitdj, February 8th, 2007 at 7:16 pm:
-
Ini analisis bodoh. Sok sekolahan, dan muncul dari cara berpikir orang sekolahan. Tayangan Tukul, bagi saya, justru paling bisa dinikmati ketika pemirsa membebaskan diri dari kehendak untuk berpikir analitis dan bergaya sekolahan seperti ini. Lawakan Tukul jelas melampaui kritisisme ala skripsi mahasiswa. Kebanyakan pemirsa Indonesia bukan orang sekolahan yang sok kritis. Mereka menikmati saja, apa adanya. Seperti nonton karya seni. Dinikmati, bukan dipahami. Sebab itulah banyolan Tukul disuka.
gudelsehat, February 12th, 2007 at 11:39 am:
-
he, he,.. analisis jaman euforia reformasi di pake :d Sangat sulit memandang segi hiburan secara pragmatis, apalagi soal selera kan juga tidak dapat di perdebatkan. Faktanya masyarakat sangat suka 4 mata karena mereka bosan dengan format 2x talk show / hiburan mainstream yg selalu memaksa kita untuk menerima doktrin 2x dari stasiuan tv dan terkesan menggurui.
Di 4 mata penonton di bebaskan menikmati acara tersebut sebagai sebuah hiburan yg membebaskan. Bayangkan saja hanya di 4 mata talk show yang tidak memerlukan jawaban dari sebuah pertanyaan ( yg penting lucu ) seperti kata mas tukul. Aneh bukan sebuah “Talk Show” pertanyaan tanpa perlu di jawab, dan itu adalah salah satu daya tarik 4 mata. Makanya jangan selalu berfikir mainstream bro,… :d Hidup wong Ndeso !!!
jan-mbuh, February 20th, 2007 at 4:14 pm:
-
kurang begitu jelas, apakah posting di atas mengkritik atau malah menyerang mas tukul..
tp anggap aja kritik membangun mas, bisa dijadikan masukan biar sampeyan much better. ngerti ora ‘much better’??dasar ndeso.
orang bijak akan selalu bisa menerima kritik..
kalo memang dia berniat nyerang ya biarin aja, anggap aja dia iri pengin kaya dan terkenal seperti sampeyan.yo??pinter..
Tony_Legend, February 24th, 2007 at 12:08 pm:
-
Mas Tukul, Anggap Saja Ini Masukan.
Jangan Dipusingkan. Kata-Kata Kembali Ke Laptop Bisa Divariasikan Seperti : Back To Laptop, Laptop Is The Best, Liat Ke Laptop, Lagil Lagi Ke Laptop, Laptopku Tercinta, We Come Back To Laptop, Ngintip Ke Laptop, DLL.
Tiap Hari / Seminggu Sekali Ganti-Ganti.Untuk Break Bisa Dipakai :
1. Kita Kembali Setelah Pesan2 Berikut, 2.Pemirsa,Mau Obrolan Yang Lebih Seru Dan Hot ? Jangan Ke Mana-Mana 3.Lebih Oke,Lebih Mantap dan Akan Ada bintang tamu baru.Don’t Go Anywhere.
4.Inga2 Pemirsa, Bincang2 Makin Gregetan AFTER THE BREAKTrus Bintang Tamu Diminta Jawab Dulu memang Benarmas tukul Supaya mrk merasa dihargai juga.jgn tanya lalu dibiarkan.
Kritikan Di Atas Ambil Yang Positifnya Saja Supaya 4 Mata Makin Langgeng Sampai 3 Juta Episode.Hehehe

Krn Saya Penggemar Berat 4 Mata !!!Salam Ndeso untuk pepi and salam manis utk vega alias ngatini (Biar Kata Ngatini, Wajahnya Cantik Bodynya Oke Lho Bokkkkkkkkk)
hasan, February 26th, 2007 at 2:43 pm:
-
Suwon Pak Tukul, sampeyan sudah membuat televisiku “tertawa”, sebelumnya TV ku “sedih” terus, buat yang ngasih comment, nggak usah ribut alias debat, nanti bikin komputerku “sedih” lagi.
Thanks All
opuom, February 27th, 2007 at 2:52 pm:
-
waduh bos…ini ada kritikan bagus kok malah dianggap orang iri. jgn under estimate dunk…harus positive thinking. jgn asal kebawa emosi dan keburu gerah dong bosss….. santai ajalah ini kritik yg konstruktif. kita bangga jadi WONG NDESO tp ga harus BERPIKIRAN NDESO dan KATRO.
tul kan bosss…. tetaplah mengkritik selama itu konstruktif…..puas…puas….
Fandi, March 1st, 2007 at 1:28 pm:
-
Cerdas mengkritik seperti ini, yach kita semua memang mencintai 4 mata dan kita juga tidak mau 4 mata nantinya akan menjadi acara talk show yang akhirnya basi. memang tegoran seperti ini musti direnungkan oleh tukul dan kru2 yang ada di 4 mata tentunya agar acara ini tidak menjadi monoton. sebuah talk show memang harus mempunyai tujuan dari topik - topik yang disiarkan, nah sumber2 tersebut perlu di Hargai’ jawaban2 dari pertanyaan siempunya laptop.
Walau acara ini dikemas dengan gaya humoris yang sangat lucu tetapi informasi dari nara Sumber( bintang tamu ) harus dihargai dan di dengarkan jangan belom dijawab sudah dibiaskan, sama saja kita menontol acara lawakan yang tidak punya tujuan atau lawakan jalanan….
Sebuah Talk Show juga memang harus mempunyai kesimpulan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat sebagai informasi, Klo tiap hari kesimpulanya hanya ” maaf ini cuma candaan tidak ada maksud untuk menghina.bla…bla…bla” maka dapat dipastikan acara ini tidak akan bertahan lama.
Kreatif dan inovatif itu kunci untuk mas Tukul kite…..
Maaf yach Mas Tukul tapi sungguh saya menginginkan acara ini menjadi acara yang mantap terusssssjangan di pertengahan nanti acara ini menjadi Basiiiii…..
Thanks
Maju terus 4 mata….
Bravo trans7
findcholis, March 6th, 2007 at 6:43 am:
-
kritik yang bagus, kritik bukan berarti kecaman kok. justru kemampuan menimbang kritik menjadi kekuatan di masa datang. empat mata edisi 6 maret 2007, membuktikan kritik Aulia Muhammad itu. penampilan mas tukul agak garing, mas tukul juga tumbuh-tumbuhan lho, ada keterbatasan.
Kusmantoro, March 8th, 2007 at 9:00 pm:
-
Buat orang yang lagi ngetop
Wong Ndeso Mas Tukul ArwanaAss.Wr.wb
Mas saya salut setelah membaca ceritanya mengarungi kehidupan dari awal datang di Jakarta.
Sekarang Wong Ndeso dadi wong Kuto (ngetop/kaya)patut disyukuri ya Mas..!Semua kritikan tujuannya membangun agar Talk Show Empat Mata tetap dihati pemirsanya bahkan dimasa datang lebih bagus lagi (eksis).Saya yakin Mas Tukul akan menerima dengan hati yang ikhlas dan akhirnya akan membuat sarana pembekalan diri dalam setiap penampilan2nya, bukan sebaliknya…..!Apapun sebutannya Mas Tukul sudah NGETOP hehehehe…tp jangan lupa
“Mempertahankan kepopuleran lebih sulit ketimbang berjuang menuju kepopuleran itu sendiri”.Sekarang Mas Tukul secara otomatis dituntut oleh Kontrak Episode untuk lebih mampu meningkatkan diri dan selalu ready dalam setiap episode.Pelajarilah kepribadian orang2 NGETOP yang biasanya tersungkur kepada tiga hal :Tahta, Wanita, dan Harta.Kita orang Islam jangan sampai lalai untuk mengingat (Ibadah/Tunaikan kewajiban) kepada Allah Swt karena urusan2 dunia yang bisa saja dalam sekejap Allah Swt bisa mengambilnya.”Niatkan dalam kehidupan kita untuk beribadah kepada Allah Swt bukan sebaliknya mendatangkan murka Allah Swt(misi), jadilah Khalifah fil ardh (visi) maka tercapailah kesuksesan tanpa batas (Empowerment)…” Sori Mas Tukul…saya juga Wong Ndeso yang gak bermaksud menggurui namun sebaliknya hanya sekedar berbagi pengalaman ndeso hehehhe..maju terus tapi tetap jadi orang yang selalu ISTIQOMAH selalu dalam ketaatan dalam perintah dan larangan2Nya…!Kapan Naik Haji nih…?Salam buat Keluarga.Motto :”Jangan biarkan oranglain lalai kepada fitrah dirinya”
Wass.Wr.Wb
Wassalaamu ‘alaikum Wr.Wb
Nuraqli, March 23rd, 2007 at 11:15 am:
-
maju terus yang penting orang masih banyak yang suka, disitulah rejeki didapat.
jadilah diri sendiri. karena bila merubah jadi orang lain itu tidak mungkin
Deva, March 28th, 2007 at 5:34 pm:
-
Bener mas Tukul harus lebih kreatif lagi, yang sekarang udah keren sich.
Mahu terus 4 mata, salam dari keluargaku unutk wong ndeso sing katrok puas….puas….
Patriot, April 5th, 2007 at 6:24 pm:
-
Hehehehe…Wong mas tukul itu wong kampung pak, terlalu ilmiah utk analisanya pak… kalo bapak mo ngasih kritikan kayaknya cukup gini aja pak :
1. Jangan ngulang2 terus bahan lawakannya supaya penonton gak bosen…
2. Kasih kesempatan bintang tamu supaya nyelesein jawaban..
Singkat tho..
Wong gitu aja pake ilmiah2an..
juantara, April 7th, 2007 at 12:52 am:
-
masukannya bagus jg tapiiiiiiiii
acaranya tiap hari kan seperti itu
klo Andi mallarangeng merasa tersiksa knapa dia mau di undang di acara empat mata, kan udah tau klo acaranya gak serius2 amat kaya sidang kabinet/ upacara bendera. Tul gak???
klo Andi M mau jd bintang tamu berarti dia suka sama acara empat mata.
Andi mallarangeng itu bukan tersenyum kecut,klo beliau tertawa terbahak-bahak ya gak pantes buat seorang jubir kepresidenan
tumini, April 11th, 2007 at 2:14 am:
-
bagus, setuju 100%… masukan buat mas Tukul. bisa dipertimbangkan, Tim creative empat mata?? Tia???
Your comment:
You must be logged in to post a comment.
Ngerti po ora boso kuwi mas? Bali wae ning ndeso yen ra mudeng ... hehehe
Hak cipta ditanggung sendiri oleh pembaca - Isi dari website bukanlah pernyataan resmi atau mendeskreditkan Tukul Arwana.
Isi adalah semangat kebersamaan para pecinta Tukul Arwana. Website ini berstatus BO (Bimbingan Orangtua)
Semua isi bertujuan untuk kocok-kocok perut Anda, tanyalah kepada Orang Tua bila tidak ngerti maksud bahasa diatas
Generasi muda sekarang lebih suka bahasa kota drpd bahasa NDESO. Bahasa NDESO lebih dimengerti oleh orang tua Anda.
Ajarkanlah Anak Anda Bahasa Ndeso, baru Bahasa Kota, trus Bahasa lain (Inggris, Belanda, Bali, Sumba, Papua, dll).
Ojo lali kowe Le, asalmu ki teko ndeso, pelosok, hutan sana lo, melu boso ndeso artine melestarikan budayamu dewe,
ben ra punah. Conto'nen masmu Tukul Arwana kuwi.






