Pages
-
Archives
-
Categories
-
Link List
4 February, 2007 |
Tukul Arwana, Jadi Wasit Orang Ngobrol
Jakarta, Warkot
PELAWAK Tukul Arwana (43) punya pekerjaan baru: menjadi “wasit” untuk menengahi orang yang sedang berbincang-bincang. Ya, kalau-kalau perbincangan mereka mengarah ke perdebatan, Tukul harus “meredakan” suasana.
“Saya harus mengontrol semuanya. Jangan sampai ada yang sakit hati atau berdebat sampai panas,” katanya saat ditemui Warta Kota di Studio TV7,Cawang, Jakarta Timur, Senin (8/5).
Ya, pria kelahiran Semarang, 16 Oktober 1963 itu didaulat TV7 untuk menjadi pemandu acara 4 Mata, sebuah program talkshow yang menghadirkan selebriti atau figur publik di setiap episodenya. Topik yang dibahas akan macam-macam, dari yang menyerempet politik macam membahas soal RUU APP hingga yang berbau gosip semisal klarifikasi soal kabar perceraian artis.
“Nanti, akan ada tim yang mendukung saya. Jadi, mereka sudah kerja dulu mencari tahu narasumber. Jadi nanti di acara, saat diskusi, saya tinggal mengarahkan,” kata pria bernama asli Tukul Riyanto itu tentang acara yang akan ditayangkan mulai tanggal 28 Mei 2006 itu.
Tapi, meski sudah didukung tim, bukan berarti pekerjaan Tukul menjadi mudah. Yang namanya acara live, bukan tidak mungkin sesuatu yang tidak terduga akan terjadi. “Ya, saya harus pandai-pandai mengontrol diri dan suasana. Jangan sampai kebablasan,” katanya.
Tukul mengaku jadi semakin rajin membaca dan menonton televisi untuk membekali dirinya. Kebetulan, katanya dia memang senang membaca sejak kecil. Hebatnya, dia gampang ingat apa yang dibacanya.
“Saya paling suka membaca buku yang berbau-bau psikologis. Misalnya soal sifat seseorang dibaca dari wajahnya, tanda tangannya, tanggal lahir, tahun lahir, bintangnya dan yang seperti-seperti itu,” katanya.
Lantaran membaca, Tukul juga pernah mengganti tandatangannya supaya peruntungannya menjadi bagus. “Ya, kalau orang sudah jelek, bodoh, nggak pede, enggak sombong, siapa yang mau mendekati. Jadi, saya membekali diri dengan percaya diri tinggi, sombong, dan reading skill. Maksudnya, ilmu pengetahuan yang saya dapat dari membaca,” ujarnya.
“Saya enggak merasa lucu kok, tapi ya orang-orang senang tertawa kalau dekat saya. Itu karena reading skill itu loh,” kata pelawak yang pernah menjadi sopir pribadi dan loper koran ini. (sra)
Sumber dari http://www.kompas.com/gayahidup/news/0605/11/194442.htm
Your comment:
You must be logged in to post a comment.
Ngerti po ora boso kuwi mas? Bali wae ning ndeso yen ra mudeng ... hehehe
Hak cipta ditanggung sendiri oleh pembaca - Isi dari website bukanlah pernyataan resmi atau mendeskreditkan Tukul Arwana.
Isi adalah semangat kebersamaan para pecinta Tukul Arwana. Website ini berstatus BO (Bimbingan Orangtua)
Semua isi bertujuan untuk kocok-kocok perut Anda, tanyalah kepada Orang Tua bila tidak ngerti maksud bahasa diatas
Generasi muda sekarang lebih suka bahasa kota drpd bahasa NDESO. Bahasa NDESO lebih dimengerti oleh orang tua Anda.
Ajarkanlah Anak Anda Bahasa Ndeso, baru Bahasa Kota, trus Bahasa lain (Inggris, Belanda, Bali, Sumba, Papua, dll).
Ojo lali kowe Le, asalmu ki teko ndeso, pelosok, hutan sana lo, melu boso ndeso artine melestarikan budayamu dewe,
ben ra punah. Conto'nen masmu Tukul Arwana kuwi.






