Doc ttg TUKUL "REYNALDI" ARWANA
host Empat Mata -
Trans7
website versi:
NdEso V.1 (Dalam taraf pembenahan menuju ke kota)

Minggu, 14 Jan 2007,
Dari Syuting Empat Mata Bersama Tukul Arwana
Sedih saat Diremehkan Bintang Tamu
"Kembali ke Lap…Top". Ungkapan itu sepertinya tak asing lagi di
telinga pemirsa TV. Lewat acara bertajuk Empat Mata tayangan Trans 7
setiap Senin hingga Jumat pukul 22.00, Tukul Arwana, 43, berhasil
memopulerkan jargon tersebut.
Kamis (11/1) malam lalu, koran ini berkesempatan mengikuti proses
rekaman tayangan berformat talk show variety berating tinggi
tersebut di Studio Hanggar, Jakarta Pusat. Malam itu, Empat Mata
mengambil tema Groupies dengan mengundang para personel band Naif
serta model Davina dan Nadya sebagai bintang tamu.
Menyesuaikan dengan tamu yang hadir, pada kesempatan itu, Tukul
mengenakan kemeja model retro dengan motif kembang merah muda. Tidak
ada kesulitan berarti bagi Tukul untuk mengocok perut tamu dan
penonton yang hadir di studio.
Semakin asal jawaban yang diberikan bintang tamu, semakin ramai pula
banyolan yang dilontarkan Tukul. "Setiap pertanyaan saya memang
tidak perlu jawaban yang benar. Yang penting lucu saja," kata Tukul.
Laptop menjadi bagian penting dalam acara tersebut. Dari situlah
Tukul yang membawakan acara itu tanpa skrip mendapat instruksi dari
Tia, tim kreatif. Kapan dia harus memanggil bintang tamu, apa saja
yang mesti dilakukannya untuk semakin menghidupkan acara ada di
situ.
"Laptop ini juga berguna untuk membantu saya. Kalau obrolan mulai
ngelantur, saya tinggal bilang, ’Kembali ke Lap…Top’. Ini yang
membedakan acara kami dengan yang lain," cerita Tukul.
Empat Mata memang menyajikan sesuatu yang lain. Jika biasanya talk
show identik dengan perbincangan berbobot dan dipandu pembawa acara
berpenampilan cerdas sekaligus menarik, hal itu tidak berlaku untuk
program ini. Penampilan serta kemampuan berbahasa asing Tukul jauh
dari presenter kebanyakan.
Hal itu diungkapkan Andri Lunggana, produser Empat Mata saat ini. "Saya
produser ketiga. Sebelumnya, ada Mas Agung Suripto dan Nik Tobing.
Jujur, saya sempat berpikir, kenapa Tukul? Dia bisa apa? Pada saat
awal melihat dia, saya lihat masih banyak kekurangan," ujar Andri.
Yang jelas terlihat adalah kekurangan dari sisi penampilan. "Untuk
jadi host, penampilan itu penting. Lihat saja Ferdy Hasan atau Indy
Barends. Mas Tukul, ganteng juga nggak. Sudah gitu, kemampuan
berbahasa asingnya juga pas-pasan banget," pikir Andri kala itu.
Namun, semua kekhawatiran tersebut mampu dijawab Tukul dengan sebuah
tayangan berkualitas. Semua kekurangan yang disebutkan Andri itu
justru menjadi kelebihan yang membuat acara tersebut berbeda
daripada acara sejenis lainnya.
Orang yang dirasa Tukul paling berjasa mengantarkannya sukses
memandu acara Empat Mata tersebut adalah Apollo, pria asal Filipina
yang ketika itu menjabat sebagai manajer produksi TV 7. Apollo
sangat gencar mendorong dirinya yang mengalami krisis percaya diri.
"Awalnya saya takut. Lha, saya ini kan wawasannya rendah. Tapi, dia
terus membujuk saya, ngasih gambaran, sampai akhirnya saya mau. Saya
ingat betul waktu dia bilang, karakter saya mirip Larry King,"
cerita Tukul.
Kesuksesan Tukul saat ini tidak lepas dari sifatnya yang keras dalam
belajar. Siapa yang mengira bahwa Tukul adalah seorang kutu buku.
Pada waktu senggang, pria kelahiran Semarang 16 Oktober 1963 itu
suka membaca majalah atau buku-buku psikologi.
"Dengan buku-buku kejiwaan, saya dapat banyak pelajaran tentang cara
menghibur yang baik dan menyiasati berbagai respons penonton,"
ungkap pengagum berat almarhum pelawak Gepeng itu.
Berbagai latar belakang dan karakter bintang tamu telah dihadapinya
sepanjang memandu Empat Mata. Mulai penyanyi, pemain film, politisi,
hingga mantan majikannya saat dia bekerja sebagai sopir dulu. Semua
sangat berkesan bagi Tukul. Sayang, yang didapatnya tidak melulu
kesan baik. Tak jarang, ada bintang tamu yang malah membuat Tukul
sedih.
Bintang tamu yang dimaksud Tukul adalah mereka yang memandang
sebelah mata terhadap dirinya. "Dari tatapannya itu, bisa kelihatan
kalau dia nganggap saya nggak selevel sama dia. Saya prihatin saja
dengan orang yang seperti itu. Kalau mau senang, ya bikin orang lain
senang dulu," ungkap Tukul tanpa menyebut nama bintang tamu yang
dimaksud.
Kalau menemui keadaan seperti itu, Tukul harus bekerja lebih keras
untuk menghidupkan suasana. Biasanya, memperluas bahan banyolan ke
penonton, ke pemain perkusi bernama Pepi, atau pada dua gadis bar
Dian dan Mega. "Biar suasana nggak kosong, saya berusaha cari
tek-tok ke penonton atau yang lain," cerita Tukul.
Sumber : Jawa Pos
[ Buku Tamu Tukul
Arwana ] [ Opini & Kreativitas Masyarakat ] [
Dokumentasi ] [
Kembali ke Habitat ]
|

Diambil dari kapanlagi.com, Mas Tukul berbaju Orange,
sama kek warna favorit kita di Bali Orange

Tukul- pic by pisangkremes.com

Saya, paling kanan dan
Para pecinta Tukul Arwana - Tim
Bali Orange
Communications
Wajah-Wajah Tim Bali Orange
Layanan Bali Orange
[Hosting+Domain]
Pelanggan Bali Orange
|